Malam semakin larut, kesunyian pun telah menghiasi kampung ku yang tercinta. Suara binatang malam riuh, di susul dinginnya angin malam. Tak ada satupun benda angkasa yang bersinar. Lengkap sudah suasana gundah malam minggu ku. Di tambah lagi Kegelisahan yang menyobek perasaan yang tak pernah absen dalam akhir-akhir minggu ini. Sembari memegang handphone yang sudah usang, sembari baca sms yang masuk hari ini. Maklum hari ini, handphone ku di museumkan sementara, alias di simpan.
“Rul, bukankah tidak baik jikalau tidur terlalu larut malam. Hari sudah menunjukkan pukul sebelas, nanti besok sholat shubuhnya seperti hari kemarin, telat lagi,” nasehat ibuku sembari memegang bahu ku. Aku Cuma bisa diam, dan tetap melanjutkan membaca sms. “Rul, tidak baik mengabaikan nasehat orang tua.” Lanjut si Ibu dengan nada suaranya yang lembut. “Iya bu, maafkan Sahrul ya?” jawab ku sambil memegang tangannya. Aku langsung masuk kerumah dan mengunci pintu depan dan bergegas ke kamar,
Ibu juga bergegas ke kamar, terdengar suara sandal kerasnya lewat depan pintu kamar ku. Nasehatnya pun masih tetap dikumandangkan kepada ku. “Ingat, bangunnya jangan sampai kecolongan lagi.” Celoteh ibu sambil mematikan lampu ruang depan dan tengah. “Iya Bu, pasti sahrul bangun lebih awal,” sahut Sahrul dengan kesan membanggakan diri.
Akhirnya kegelisahan itu kalah juga oleh rasa ngantuk dan capek yang ku tahan dari tadi sore. Selang dua puluh menit masuk kamar, aku tertidur pulas. Mimpi tidak mengusik tidur ku malam ini.
“Allaahu akbar Allahu akbar, Allaahu akbar Allahu akbar,” terdengar suara adzan berkumandang. “Astaghfirullahal adziim, adzan sudah dikumandangkan. Telat lagi berjamaah nya ini.” Cetus ku dalam hati sembari mencari kain sarung untuk dipakai sholat. Rumah ku memang jauh dari masjid, dari itu harus lebih awal untuk berangkat sholat, kalau tidak bisa-bisa jadi masbuq. Kulihat ruang tengah dan depan sudah terang benderang. Kunci pintu depan tak melekat lagi di pintu. “Sepertinya aku sulit lagi untuk dibangunkan, pasti ibu kesal lagi.” pikir ku dalam hati.
Terpaksa hari ini aku tidak sholat berjamaah lagi, karena dikunci bapak dari luar yang sholat berjamaah di masjid. Langsung aku bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu sholat sendirian.
Selesai sholat aku langsung membereskan tempat tidurku yang belum sempat di rapikan, dilanjutkan dengan menyiapkan buku pelajaran untuk hari ini. Ingin aku membersihkan ruang tamu dan tengah serta dapur, tapi ku lihat sudah tertata dengan baik. Bahkan sarapan telah disiapkan. “Sungguh luar biasa ibu ku” gumam ku dalam hati.
Sepulang dari bapak dan ibu dari masjid, aku sudah mandi dan ganti baju, sudah siap untuk berangkat ke kampus, tinggal tunggu sarapan bersama keluarga lagi. Memang aku adalah anak tunggal, jadi terkesan manja. Meski demikian aku sudah punya pemikiran mandiri, hanya soal-soal kecil saja aku bergantungan dengan orang tua.
“Rul, ayo sarapan pagi dulu. Sebentar lagi ayah mau berangkat ke kantor, mau bareng bapak tidak berangkatnya. Ibu juga mau mudik ketempat nenek tiga hari ini.” Panggil ibu ku sembari mengetuk pintu. “Iya bu, Sahrul sudah berpakaian rapi sekarang, siap berangkat ke kampus.” Sahut ku sambil bergegas keluar kamar.
Pagi ini cerah sekali, jadi semangat untuk beraktivitas. Kepenatan semalam tak teringat lagi oleh ku. Meskipun hari ini aku harus bertemu lagi dengan sosok yang menjadi dalang dari masalah ku. Ya “Andini” namanya. Anak satu jurusan dengan ku, tetapi beda kelas. Aku di kelas A, sedangkan Andini di kelas C. kemarin dia menghilangkan buku dan tugasku, sehingga aku sudah di vonis mendapat nilai D. mana empat sks lagi. Sungguh membuat beban bagi ku. Semestinya smester ini aku mengejar IPK ku yang sudah anjlok. Karena kesalnya, aku marah-marah dengan Andini. Andini pun menangis.
“Belajar dengan baik ya nak. Oya, nanti siang pulang kulyah nya sendirian ya Rul, karena bapak ada seminar di kantor.” Aku tersenyum, sambil menyalami tangan bapak. “Iya, nanti Sahrul pulang ikut teman. Hati-hati ya pak.”
Kampus ku hari ini riang sekali. Sudut-sudut kampus terlihat keceriaan mahasiswa. Aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju gedung perkuliahan. Hari ini cuma ada satu mata kuliah, masuknya pukul 08.00 WIB. Meski masuknya jam segitu, tapi keseringan mulai kuliahnya pukul Sembilan.
“Handphone ku berbunyi, pasti si dia lagi yang kirim pesan ini. Hah, pesan dari ardi. Kenapa anak ini, pasti minta izin lagi.” Omel ku dengan nada kesal. “Apa, tidak masuk. Kenapa baru beri tahu sekarang. Kalau tahu hari ini tidak kuliyah, enak ikut ibu mudik ketempat nenek tadi. Menyebalkan!.”
Dengan langkah kaki yang lunglai aku menuju taman baca di jurusan ku. Mau pulang sudah tanggung.
Saku celana ku bergetar, ada pesan masuk lagi.
“Aslm, Rul kamu dimana, kuliyah atau tidak. Kita ke pasar, temanin aku beli batik. Karena hari senin kita diharuskan pakai batik,” isi pesan dari Ergi. Ergi adalah teman satu fakultas ku, tapi beda jurusan. Kami berteman sejak kelas dua SMA dulu. “Astaghfirullahal adziim, hampir saja lupa, lusa kan pakai batik.” Langsung ku bergegas meninggalkan taman baca sembari membalas pesan dari Ergi tadi.
“Gik, kamu dimana sekarang, aku sudah berangkat ke terminal, kita bertemu di sana ya”
“Aku uda di terminal,” balas Ergi. Rumah Ergi dipinggiran pasar, dekat terminal. Jadi, nanti berangkatnya dari terminal, jalan kaki lumayan dekat.
Tapi, untuk mencapai ke terminal cukup jauh, naik kendaraan memakan waktu setengah jam-an. Itu pun kalau cepat, biasanya para sopir angkot sering antri menunggu penumpang. Tapi hari itu aku kurang beruntung, aku tiba di terminal hampir satu jam-an. Ku lihat Ergi sedang gelisah menunggu. Matanya melirik kemana-mana, sepertinya mencari diriku.
“Ergi, maaf lambat, lama ya nunggu?” Tanya ku sembari tersenyum. “Tidak apa-apa, aku ngerti kok.” Tukas Ergi.
“Oya gik, kamu tidak masuk kuliah ya hari ini.” Tanya ku dengan Ergi sambil berjalan ke pasar. “Kami tidak ada jadwal kuliah hari ini.” Jawab Ergi santai.
“Rul, kita belinya di toko mana. Apa tempat kemarin kita beli sepatu?” Tawar Ergi.
“Terserah, tapi lebih bagus kita ke toko special menjual baju batik. Kemarin aku di kasih tahu Andi tokonya. Di seberang toko tempat kita beli sepatu kemarin.” Langsung kami bergegas ke toko itu.
Sesampai di toko, kami sibuk memilih batik. Bingung untuk memilih, karena coraknya semua bagus. Harga nya juga masih standar, terjangkau oleh saku. Tiba-tiba mata ku tertuju di sudut toko. Ada sesuatu yang membuat aku merenung. Teringat lima bulan yang lalu, saat hari ulang tahun ku. Ada seorang teman yang menghadiahkan aku baju batik. Mirip sekali dengan corak yang aku tatap.
Berjalan aku mendekat, dan semakin memasatinya. “Ya, Andini. Besok kan dia ulang tahun. Aku harus membalasnya. Meski dia sudah membuat aku kecewa, aku harus meminta maaf dengan dia. Aku telah membentak nya didepan teman-teman.” Ucap ku dalam hati. Langsung saja aku menawari batik itu.
Bersambung. . . . .
















