Warga Muararupit, Lubuklinggau, heboh ketika sekelompok pemanah ikan menemukan bangunan kuno di kedalaman lima meter Sungai Rupit Desa Beringinjaya. Kepala desa, Faisal, menduga bangunan itu benteng pertahanan di jaman Kerajaan Sriwijaya.
Bentuk bangunan belum dapat dipastikan karena sebagian besar masih berada di dalam tanah di dasar sungai. Rozak, pemanah yang menemukan bangunan itu lima hari lalu, telah mengangkut sekitar 40 batubata ke tepi sungai sehingga menarik perhatian warga.
Ukuran batubata 8 X 18 X 33 cm warna coklat, ada yang sudah jadi hitam dan hijau karena lumutan. Ukuran itu jauh lebih besar ketimbang batubata saat ini.
“Kami menduga di sana pernah didirikan bangunan atau setidaknya hendak didirikan bangunan. Kemungkinan itu benteng pertahanan di jaman Kerajaan Sriwijaya,” kata Faisal, Minggu (8/7).
Peneliti Balai Arkeologi Palembang, Kristanti Indriastuti, telah melihat foto batubata kuno yang diperoleh Tribun Sumsel dari Budi Bernama Bija (26), warga Desa Beringinjaya.
Kristanti mengatakan, batubata tersebut identik dengan temuan di Candi Lesungbatu dan Candi Tingkip di tepi Sungai Rawas, Musirawas. Sungai Rupit merupakan anak Sungai Rawas.
Dihubungi secara terpisah, Agus Suryadadi, peneliti dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi, mengatakan, Batubata itu kemungkinan besar bagian dari bangunan di masa klasik Kerajaan Sriwijaya.
Pada temuan candi dan artefak kuno di Sumatera Selatan dan Jambi, keberadaan Kerajaan Sriwijaya ditandai temuan mayoritas Candi Budha.
“Namun kami belum bisa pastikan bangunan apa. Bisa jadi candi, bisa juga benteng pertahanan seperti diduga warga setempat,” katanya.
Menurut Agus, pada jaman dulu kebiasaan permukiman penduduk dan bangunan tempat ibadah berada di dekat sungai yang merupakan jalur transportasi. Beda dengan sekarang lewat jalur darat.
Merujuk pada temuan di Jambi ada Candi Dusun Mudo dekat Sungai Batanghari. Karena terjadi erosi, posisi candi di temukan tepat berada di tepi sungai. Maka perlu dilakukan observasi juga kondisi Sungai Rupit di masa lalu.
“Temuan itu akan disurvei dan diteliti lebih lanjut. Sebuah candi ada komponen lain selain batubata, misalnya arca dan keramik yang menandakan itu candi. Begitu pula kalau bangunan itu benteng,” katanya.
Ada kemungkinan pula itu bangunan permukiman warga. Seperti kasus di Jambi, batu candi dipergunakan oleh masyarakat jaman dulu (setelah candi tidak difungsikan) sebagai bahan bangunan lain seperti rumah dan bagian makam.
“Memang di Musirawas ada ditemukan sejumlah candi dalam keadaan rusak. Seperti Candi Tingkip hanya 15 lapis bata, semestinya lebih tinggi dari itu. Candi Lesungbatu lebih rusak lagi,” kata Agus.
Dia berharap kesadaran masyarakat untuk tidak merusak banguan itu. Kalau pun sudah ada bagian bangunan yang dibawa ke darat, sebaiknya disimpan sampai nanti tim dari Balai Arkeologi Palembang atau BP3 Jambi melakukan penelitian agar lebih jelas.
“Dengan demikian rasa penasaran masyarakat bisa terjawab,” kata Agus.
