KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Friday, 7 January 2011

PENDIDIKAN OH PENDIDIKAN


Pendidikan adalah fondasi maju mundurnya sebuah bangsa. Pendidikan lah yang kemudian membuat citra diri sebuah bangsa layak untuk disebut sebagai sebuah peradaban. Pendidikan menjadi kunci penting kebangkitan. Keberhasilan sebuah bangsa di bidang pendidikan pasti akan bersinergi dengan keberhasilan bangsa tersebut mengurus rumah tangga peradabannya. Sesunguhnya pendidikan jualah yang memuliakan manusia dari yang tidak tahu menjadi paham. Karena, sejatinya hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Begitulah yang kita pahami akan hakikat dan urgensi pendidikan dalam sebuah bangsa. Wajar jika kemudian ada sebuah prediksi bagi sebuah bangsa yang tidak menyandarkan pendidikan sebagai sebuah tiang peradabannya, ditunggu kehancurannya.
Begitu pentingnya sebuah pendidikan bahkan membuat para elit politik Jepang heran saat itu. Sang Pemimpin justru menyuruh mengumpulkan para guru yang tersisa untuk mendidik anak – anak mereka. Padahal disekitar mereka masih banyak permasalahan dan kegetiran yang disisakan pasca perang yang mematikan itu. Meski harus pahit, Nagasaki yang hancur, Hiroshima yang luluh lantak, harga diri yang tercabik – cabik, bahkan trendsetter Asia itu pun harus mengangkat bendera putih tanda kekalahan, namun satu hal yang patut menjadi pujian, sebuah optimisme kebangkitan. Dunia pun terheran – heran. Tak berapa lama, negeri itu pun bangkit kembali dengan segala cerita kemajuannya. Inilah keberhasilan di balik cerita kesigapan para pemimpinnya yang mengutamakan pendidikan.
Hal itu pula lah yang mungkin membuat Rasulullah saw. menyepakati pendapat Abu Bakar Shiddiq untuk kemudian menahan para tahanan perang badar untuk kemudian mengajari anak – anak mereka membaca dan berhitung. Demikian juga kita tidak akan terheran – heran akan sikap Rasulullah pasca perang uhud yang mengumpulkan para pengahapal Al Qur’an yang tersisa untuk kemudian mendidik generasi selanjutnya. Karena kita paham, bahkan turunnya risalah yang mulia ini dengan sebuah perintah eseensial untuk pendidikan. Iqra!!! Bacalah!!!
Namun, apa yang kita lihat dari Indonesia, dan polemik pendidikannya. Di tahun 70an konon kabarnya negeri jiran Malaysia mengimpor tenaga pengajar dari Indonesia untuk mengajari anak – anak mereka. Namun di penghujung 2000an justru Indonesia kemudian terpuruk dalam dialektika wacana krisis multidimensi yang artinya juga krisis kualitas pendidikan.

MEMAHAMI ARTI PAHALAWAN


Pahlawan, siapa ya?
“Pahlawan sejati adalah orang yang dapat memanfaatkan setiap momentum kepahlawanan.”
Itulah kutipan Anis Matta dalam sebuah opini nya yang di muat di majalah Sabili. Ketika mendengar kata pahlawan, sekilas terbenak di pikiran kita adalah orang-orang yang menang dalam perperangan. Ya, hal tersebut memang benar! Tetapi apakah Cuma hal itu? Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), saya mendapapatkan jikalau pahlawan adalah orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran. Melirik arti pahlawan dalam KBBI, menjadi pahlawan adalah hal yang memungkinkan bagi setiap individu. Seorang sopir becak, atau pedagang asongan pun bisa mendapatkan predikat itu.
Pada dasar nya, pahlawan adalah orang yang menunjukkan sikap yang jiwanya berorientasi pada kebenaran, keberanian, pengorbanan, kesetiaan, dll. Dalam agama yang satu-satunya di ridoi Allah SWT, yaitu Islam, predikat kepahlawanan tidak cukup hanya mengacu pada pemahaman-pemahaman di atas. Tetapi wajib di iringi dua syarat mutlak. Yaitu rasa ikhlas dan selalu siap pada saat dibutuhkan.
Ikhlas menjadikan sebuah perjuangan lebih bermakna. Karena tidak di campur adukkan dalam suatu kepentingan, tidak ada pengharapan sebuah kemenangan pribadi atau kelompok. semata-mata adalah mengharapkan ridho Allah SWT. Telah kita ketahui kiat perjuangan Rasulullah SAW, teladan paling baik sepanjang massa, dimana semua niat perjuangannya hanya semata-mata karena Allah SWT. Semua keberanian, pengorbanan, atau kesetiaannya tidak di persembahkan untuk memperoleh tanda jasa, materi, pujian maupun pengakuan masyarakat. Meskipun di niatkan untuk negara, tanah airnya, suku, maupun kelompok yang jelas-jelas bertentangan dengan aturan-aturan dalam agama Islam.
Berjuang untuk kemerdekaan negerinya dalam konteks kelompok nya (nasionalisme, sukuisme,rasisme,dll.), memperjuangkan demokrasi dan HAM, dan pemikiran di luar islam lainnya, itu pun tidak layak masuk dalam perbuatan seorang pahlawan. Karena tidak sesuai dengan ajaran yang di contohkan Sang Teladan Sejati.
Pahlawan juga selalu siap setiap saat. Seperti kutipan dari anis matta, kita harus memanfaatkan setiap momen kepahlawanan. Jelaslah kalau ingin memanfaatkan hal tersebut, kita harus siap dan tanpa memilih untuk berbuat kebaikan pada kelompok-kelompok tertentu. Kebenaran harus selalu di lakukan dan jangan di tunda. Kini, momen untuk melakukan aksi-aksi kepahlawanan sangat banyak. Terlihat di semua lini kehidupan kemasyarakatan hingga kemancanegaraan. Dimana ketertindasan terjadi, sosok pahlawan jarang yang terlihat muncul di sana. Bahkan malah sebaliknya sosok pecundang tanpa malu berkeliaran di puing-puing penindasan. Mereka menutup mata, seraya terus-terusan memikirkan perut dan kantong mereka sendiri. Sedangkan banyak orang yang terindas (secara fisik maupun pemikiran) yang berharap dari pecundang tersebut. Setidaknya pecundang tersebut berubah bersikap kepahlawanan.
Sekarang, potensi apakah yang bisa membuat kita menjadi sosok pahlawan?. Perlukah memiliki berbadan seperti Clark Kent dahulu agar bisa menjadi pahlawan?. Atau otak seperti Einstein agar bisa di sebut pahlawan?
Menjadi pahlawan harus kita lakukan. Namun, jalan untuk menjadi pahlawan bisa dari berbagai cara. Sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Apabila diantara kalian ada yang lihai berorasi, gunakanlah potensi tersebut untuk meng-orasikan perjuangan kebenaran ke masyarakat luas. Apabila ada yang lihai menulis, tulislah hal-hal yang mengacu pada perubahan ke arah yang lebih baik. Apabila ada yang dapat berpikir dengan jenius, gunakanlah otak jenius tersebut untuk memikirkan bagaimana mensejahterakan masyarakat luas. Atau ada yang memiliki kemampuan beladiri dengan baik, maka gunakan untuk membela kaum yang tertindas. Maka kalian semua layak di sebut sebagai pahlawan. Asal tidak keluar dari nilai-nilai dasar islam.yang merupakan tolak ukur baik buruknya seluruh perbuatan.
Seorang pahlawan yang benar-benar menjiwai sikap kepahlawanan, tak akan pernah melepaskan saat-saat atau momen di mana sikap kepahlawanannya harus di tampilkan. Saat di butuhkan, seorang pahlawan akan terjun melakukan aksinya. Melihat kondisi yang dihadapi saat ini banyak sekali celah-celah momen untuk menjadikan diri sebagai seorang pahlawan. Contoh saja keadaan negara tercinta ini. banyak konflik-konflik internal

Tuesday, 4 January 2011

BERINGIN JAYA IMPIAN

Tepat 18 Oktober 20 tahun yang lalu, saya dilahirkan di desa ini. sebagian masa kecil dan seluruh masa SMP dan SMA saya habiskan di sana. Di sini ku menanamkan cita-citaku, yang insya Allah kelak tercapai, salah satunya ku persembahkan di sini. Sangat banyak pelajaran berharga yang ku raih disini. Ya, di sini, di desa penuh harapan. Desa Beringin Jaya.
Sekarang Beringin Jaya adalah salah satu dari beberapa desa pemekaran di kecamatan Rupit. Sebelumnya wilayah Beringin Jaya termasuk dalam desa Bingin Rupit, yang kemudian terpisahkan. Selama tergabung dalam desa Bingin Rupit, dulunya wilayah ini lebih akrab di kenal dengan Bingin Ilir.
Semenjak terpisahkan, ada sedikit dinamisasi di daerah ini. dengan predikat sebagai wilayah mandiri, pembangunan di desa ini mulai tertata.
Tetapi ada sedikit kendala dalam tatanan kehidupan bermasyarakat desa ini. yaitu tidak mumpuninya SDM (Sumber Daya Manusia) yang bisa bersaing di tatanan birokrasi secara umum. Ini bisa dilihat dari masyarakatnya yang belum ada menjabat Pegawai Negeri ataupun orang yang mempunyai top relation (Relasi yang baik). Ditambah lagi, tidak adanya wadah kepemudaan yang secara praktis menampung remaja-remaja yang tidak melanjutkan pasca dunia sekolah. Sehingga mereka hanya bisa pasif dalam menggunakan hak nya sebagai seorang pemuda.
Tetapi ini bukanlah kendala kronis. Masih banyak kesempatan untuk memperbaiki kemirisan tersebut. Ini bukan tugas satu orang saja membenahinya, tetapi semua elemen masyarakat beringin jaya.
Akhir bulan ini, demokrasi desa Beringin Jaya sedang berkoar. Setelah mendeklarasikan sebagai desa baru, tentunya rakyat Beringin Jaya harus mandiri. Setidaknya, bisa langsung dipimpin oleh masyarakatnya sendiri. Ini adalah moment yang tepat untuk kita mencari pahlawan terhadap kondisi itu. Beringin Jaya butuh sosok kepahlawanan yang bisa meminimalisirkan dan bahkan menghapuskan bibit –bibit yang membuat kebobrokan desa ini. Pahlawan itu adalah pemimpin baru desa Beringin Jaya, tepatnya adalah Kepala Desa (KADES). Beliaulah yang diharapkan bisa memutar laju perahu masyarakat Beringin Jaya untuk menuju dermaga kesejahteraan.
Beringin Jaya harus terbebas dari ketertinggalan. Beringin Jaya harus menumbuhkan jiwa-jiwa kepemimpinan kepada masyarakatnya. Mari bersama untuk bersatu, bersatu untuk tekadkan diri, menjadikan Beringin Jaya sebagai desa impian.

“ Yang bisa memimpin, harus berani maju kedepan. Yang mau berubah, harus membuka pikirannya. Tak bisa memimpin, harus sama-sama ikut bergerak. Memimpin tak bisa, diajak bergerak tak mau ikut. Lebih baik duduk saja di tepi, atau keluar sama sekali. “