KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Sunday, 27 March 2011

Catatan yang Ku tulis pada akun FB Bidadari yang tinggal Impian


Cinta Satu Malam

Untuk para pemabuk.
Bulan Ramadhan, bulan yang di penuhi para pemabuk. Ya, para pemabuk ibadah.
Tak memikirkan siang, malam. Mereka sibuk akan ibadah.
Tak ada tujuan lain kecuali mengharapkan Ridha-Nya. Ridha penguasa semesta alam.
Kini tinggal hitungan hari lagi Ramadhan tahun ini berlalu, para pemabuk pun semakin menjadi jadi.
Bukan tanpa alasan, karena Sang Khaliq telah menjanjikan cinta-Nya. Cinta yang Mulia.
Cinta yang ia berikan pada suatu malam. Ya hanya satu malam. . .
Pada malam kemuliaan, di masa kebaikannya melebihi dari 1.000 bulan.



Mekar Ku Hanya Sekali
Terkadang diri ini tak tega mengusik nya, mengusik kumbang-kumbang yang beterbangan mengitari ku.
Tak pandang waktu siang ataupun malam, panas ataupun hujan.
Hulu hilir menanti diri ini untuk menyapa.
Tapi diri ini selalu tertunduk, mengisyaratkan keengganan untuk dihinggapi..
Kuntum, secarik helaian yang selalu mengikat hati,
tergerak untuk memetik, memajangkan sebagai penghias keheningan.
Aku tau, tapi. . . . .
Ya, aku harus tetap mekar, hingga kesiapan diri ini terpetik.
Karena mekar ku hanya sekali.



Salsabillah Jannah
Shubuh pun telah berlalu dan diri ini terpaku di keheningan fajar.
Ada kesunyian & rasa dingin yang setia mengantarku hingga terbit nya sang surya.
Menaruh sebuah harapan yang baru untuk hari ini, harapan untuk menjadikan diri sebagai pribadi utuh.
Lama tak terasa, perpisahan itu perlahan membuat sekilas keyakinan ini agak kusam.
6 bulan silam, dimana janji-janji itu tak lain hanyalah menjadi onggokan kata-kata yang usang.
Aku memang lemah, aku tak kuat dengan keputusan itu.
Tapi aku kuat, kuat untuk harapan kemenangan,
kuat untuk menjadikan masa perkembanganku sebagai sejarah yang tetap terukir.
Biarlah air mata, biarlah ia mengalir hingga mengantarkan kita ke surga.
Surga nya sang Khalik.
Surga nya muara dari sebuah perjuangan.

My Diary (Salsabillah Menanti Sunyi)*


Tergeletak di sudut kamar ku. Se onggokan buku mini, unik.
Akhir-akhir ini, dia lah yang setia menemaniku di kamar, menemani untuk menghibur hati.

Ya, sekarang aku menyapa nya. Terlungkup di atas tempat tidurku, aku berbicara kepadanya dengan tetesan tinta suci ini, tinta yang menggores setiap sejarah-sejarah klasik dalam hidupku.

Lembaran demi lembaran sudah di goreskan. Hanya diri ini dan dia yang tahu.
Tahu akan perasaan ini.
Perasaan yang coba mengusik kemekaran ini.
Perasaan yang coba melalaikan kegigihan ini.

Aku sepi, menyendiri.
Mencoba melawan perasaan ini.
Meski itu mereka anggap men"dzalimi" mereka.
Meski itu mereka anggap cerita kuno.

Suci adalah pilihan, dinamisasi diri adalah keharusan.
Aku, dia (Diary), dan mereka adalah bagian cerita, cerita hidupku.


_Salsabillah Jannah
* Note Fb yang kutulis pada Bidadari yang tinggal Impian!

Persahabatan!


Apa yang kita rasakan untuk senyuman seorang sahabat, kadang menjengkelkan dan melelahkan, tapi dibalik semua itu,, bisa dirasakan betapa indahnya nilai sebuah persahabatan.. Saling berbagi di tengah keterbatasan..
Saling memahami ditengah perbedaan..
Saling mengisi ditengah kekosongan..

Saat ini, mungkin banyak sahabat-sahabat ku yang entah mengapa secara bertahap mulai meredup dari indahnya ukhuwah itu..
Aku tak rela jika memory itu hanya menjadi onggokan cerita..

Untuk teman-teman ku.. " siapa yang telah menjauh,, jika aku, maka aku mendekat & jika kalian, aku berharap untuk di dekat kan "

Teman,, ledakkan semua kebungkaman itu,
Karena lintasan renungan ini bnyak mengisahkan keceriaan, kesedihan, keonaran, kekanak-kanakan, & kesemangatan itu..

Sunday, 13 March 2011

HARAPAN LUCU DI BERINGIN JAYA


Pesta demokrasi di desa beringin jaya telah usai. Banyak perasaan yang mengiringi pasca pemilukades hari itu, sedih, marah, benci, senang. Hampir dibilang semua perasaan itu berbagi.
Tetapi beda hal dengan diri ku. Aku melihat sebuah pemandangan lucu yang menghiasi pesta demokrasi di beringin jaya. Bukan mengenai siapa yang terpilih menjadi kepala desa ataupun jalannya pemilukades, tetapi tentang geliat masyarakatnya.
Sudah jelas beringin jaya hidup dalam masa transisi, dimana mencari identitas diri sebagai desa pemekeran untuk menjadi depinitif. Praktis jika mau menjadi desa di akui dan tidak lagi bergantung pada desa induk, desa beringin jaya harus mandiri dan punya pemimpin.
Pada pelaksanaan pemilukades tepatnya kamis 30 desember 2010, menjadi saksi ketertawaan ku.  Jelas sudah pada ingatanku kalau calon kades pada pemilihan itu hanya tunggal, satu calon. Pada hasil final penghitungan suara dengan mata pilih 800-an, hampir separuh yang tidak mau memilih kepala desa. Praktis masyarakat desa beringin jaya hampir tidak merdeka, alias mengubur impian untuk menjadi desa depinitif.
Padahal sudah jelas sebelumnya masyarakat beringin jaya dengan gigihnya ingin memperjuangkan terbentuknya desa pengakuan. Tetapi pada saat cahaya keberhasilan itu talah nampak, tak ada satu pun yang berani menatapnya. Ini terbukti pada saat sebelum pesta demokrasi dilaksanakan. Panitia pemilukades beringin jaya hampir gagal melaksanakan pesta demokrasi tersebut. Bukan karena tak ada kesiapan ataupun masalah lain, tetapi hanya karena tidak ada yang mau menjadikan diri sebagai nahkoda  yang mengarungi samudera kehidupan masyarakat di desa itu. Hingga pendaftaran pencalonan  di buka 2 gelombang. Pada gelombang ke dua pun hampir gagal, karena masih tak ada yang mengajukan berkas untuk mendeklarasikan sebagai calon kades. Sampai pada detik-detik terakhir ada satu nama dengan semangatnya mendaftarkan diri. Sungguh pemandangan lucu, mau merdeka (menjadi desa mandiri, depinitif) kok tidak mau ada pemimpin. Bisa-bisa masuk ke desa induk lagi tuh!!!
Tetapi sekarang Beringin Jaya sudah merdeka. Beringin Jaya sudah berhasil bebas dari keterbatasan untuk membangun. Mereka sudah punya pemimpin baru, yang khusus menahkodai beringin jaya.
Selamat berjaya Desa kelahiran ku!

Sunday, 6 March 2011

Buat Mereka Yang Pernah Hadir Dalam Kisah Cinta Ku


Tak ada kata berpisah bagi kita. Yang ada hanyalah kita tidak bisa hadir bersama-sama lagi untuk menghiasi kisah-kisah cinta.
Sekarang aku sudah menutup hatiku untuk merangkai nama mu. Meski aku tahu ada tetesan air mata yang kau jatuhkan untuk ku.
Biar kita mengenang sendiri-sendiri masa itu, masa yang membuat kita selalu membanggakan satu sama lain. Ku tahu, kita merasakan sepi.
Bukan aku tak mau lagi berjumpa dengan kalian. Bukan aku ingin kalian jauh dari mata ku untuk kalian jadikan musuh. Tetapi aku tak mau kita membangun rasa benci saat mengingat kesalahan dan penyesalan yang pernah trerjadi.
Ku harap kita bisa mengikhlaskan perpisahan ini selamanya. Jangan ada kata-kata kembali lagi. Karena sekarang aku telah berdua untuk selamanya. Ku yakin kita akan dipertemukan pada orang yang terbaik dari kita.
Selamat tinggal masa lalu, aku telah melangkah. Aku telah menghapus bayangan kalian dalam diri ku. Maafkan semua salah yang telah ku lakukan pada kalian. Jadikan kesalahan itu sebagai pembelajaran kita.
Dengarlah, dengarlah wahai kalian disana. Ku kan melupakan tentang kalian.
Lihatlah, lihatlah aku di sini. Kini aku telah berdua untuk selamanya.