KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Wednesday, 6 April 2016

LALU, KEPADA SIAPA LAGI?



Kala ayah dan ibu tak lagi punyai waktu untukku
Seakan aku berputus asa, kemana lagi aku bermuara
Sifat dan perilaku ku kian tak terarah
Hingga tak terasa noda-noda dosa melumuriku

Aku belum paham, bagaimana sikap baik itu
Apa itu kedisiplinan dan ketaatan (Iman)?
Apa itu kerjasama dan kebersamaan?
Apa itu sopan santun?
Apa itu gaya hidup?

Karena, orang tuaku tak banyak waktu mengajarkanku
Karena, teman-temanku masih tabu dalam memaknai itu
Karena, diriku terlalu bodoh memahami itu

Banyak orang berkata, ada tempat yang bisa mengajarkan tentang semua itu
Disana ada sosok-sosok pilihan, sedari dulu dipercayai merubah diri
Tempat itu adalah sekolah, dan sosok itu adalah Guru

Seiring berjalan waktu, dengan bunga keoptimisan aku melangkah
Keinginan yang tertahan, seakan menemui pintu kelegaan

Tapi . . .
Tapi, hingga tahun-tahun kulalui, aku belum menemui itu
Sosok itu tak seperti yang dicitrakan
Tempat itu tak seperti yang diidamkan

Aku ingin belajar dan diajarkan tentang kedisiplinan.
Disiplin katanya patuh dengan aturan pimpinan
Tapi, sosok pilihan itu tak menampilkannya
Datang tidak tepat waktu
Hilang kala keharusannya ada
Seragam tak serapinya, layaknya aturan diikatkan untuk kami

Aku ingin belajar dan diajarkan tentang ketaatan
Taat yang katanya bisa melumpuhkan maksiat
Melepas belenggu sikap mudhorat
Agar jiwa kian kuat, dan rohani makin sehat
Tapi, sosok pilihan itu tak membiarkannya melekat
Kesiangan kala shubuh, Bercengkrama saat dzuhur, kelelahan saat ashar
Kadangan waktu maghrib,dan kepanjangan diwaktu Isya

Aku ingin belajar dan diajarkan tentang Kerjasama
Kerjasama katanya hidup bersama, kala menjalankan tugas-tugas
Tapi, sosok pilihan itu sering menyendiri dalam bekerja
Berpangku tangan kala diamanahkan
Berdebat kusir, hingga bergesek fisik dalam mencari solusi
Hingga berbeda penerapan dalam kebijakan

Aku ingin belajar dan diajarkan tentang sopan santun
Karena ini khasanah ketimuran bangsa
Sopan santun katanya keluhuran pribadi tentang ramah tamah
Tapi, sosok pilihan itu tak memperagakannya
Salam berbalas dengan diam, sapa disambut dengan hampa
Lidah berujar jorok lagi kasar

Aku ingin belajar dan diajarkan tentang gaya hidup
Gaya hidup sosok pilihan itu dambaan (katanya)
Tapi, kenapa kesehatan masih terabaikan, mengepul asap ditengah keramaian
Kasta kian ditampakkan, saat kemegahan menggelayut pandangan mata

Aku merangkum dari sosok pilihan itu
Pesimis merasuk direlung diri
Kala orang tua tak punyai banyak waktu untukku,
dan orang pilihan itu tak lagi berpijak pada kebaikan,
Lalu, siapa lagi yang kami teladani?