Kala
ayah dan ibu tak lagi punyai waktu untukku
Seakan
aku berputus asa, kemana lagi aku bermuara
Sifat
dan perilaku ku kian tak terarah
Hingga
tak terasa noda-noda dosa melumuriku
Aku
belum paham, bagaimana sikap baik itu
Apa
itu kedisiplinan dan ketaatan (Iman)?
Apa
itu kerjasama dan kebersamaan?
Apa
itu sopan santun?
Apa
itu gaya hidup?
Karena,
orang tuaku tak banyak waktu mengajarkanku
Karena,
teman-temanku masih tabu dalam memaknai itu
Karena,
diriku terlalu bodoh memahami itu
Banyak
orang berkata, ada tempat yang bisa mengajarkan tentang semua itu
Disana
ada sosok-sosok pilihan, sedari dulu dipercayai merubah diri
Tempat
itu adalah sekolah, dan sosok itu adalah Guru
Seiring
berjalan waktu, dengan bunga keoptimisan aku melangkah
Keinginan
yang tertahan, seakan menemui pintu kelegaan
Tapi
. . .
Tapi,
hingga tahun-tahun kulalui, aku belum menemui itu
Sosok
itu tak seperti yang dicitrakan
Tempat
itu tak seperti yang diidamkan
Aku
ingin belajar dan diajarkan tentang kedisiplinan.
Disiplin
katanya patuh dengan aturan pimpinan
Tapi,
sosok pilihan itu tak menampilkannya
Datang
tidak tepat waktu
Hilang
kala keharusannya ada
Seragam
tak serapinya, layaknya aturan diikatkan untuk kami
Aku
ingin belajar dan diajarkan tentang ketaatan
Taat
yang katanya bisa melumpuhkan maksiat
Melepas
belenggu sikap mudhorat
Agar
jiwa kian kuat, dan rohani makin sehat
Tapi,
sosok pilihan itu tak membiarkannya melekat
Kesiangan
kala shubuh, Bercengkrama saat dzuhur, kelelahan saat ashar
Kadangan
waktu maghrib,dan kepanjangan diwaktu Isya
Aku
ingin belajar dan diajarkan tentang Kerjasama
Kerjasama
katanya hidup bersama, kala menjalankan tugas-tugas
Tapi,
sosok pilihan itu sering menyendiri dalam bekerja
Berpangku
tangan kala diamanahkan
Berdebat
kusir, hingga bergesek fisik dalam mencari solusi
Hingga
berbeda penerapan dalam kebijakan
Aku
ingin belajar dan diajarkan tentang sopan santun
Karena
ini khasanah ketimuran bangsa
Sopan
santun katanya keluhuran pribadi tentang ramah tamah
Tapi,
sosok pilihan itu tak memperagakannya
Salam
berbalas dengan diam, sapa disambut dengan hampa
Lidah
berujar jorok lagi kasar
Aku
ingin belajar dan diajarkan tentang gaya hidup
Gaya
hidup sosok pilihan itu dambaan (katanya)
Tapi,
kenapa kesehatan masih terabaikan, mengepul asap ditengah keramaian
Kasta
kian ditampakkan, saat kemegahan menggelayut pandangan mata
Aku
merangkum dari sosok pilihan itu
Pesimis
merasuk direlung diri
Kala
orang tua tak punyai banyak waktu untukku,
dan
orang pilihan itu tak lagi berpijak pada kebaikan,
Lalu,
siapa lagi yang kami teladani?