Akhir-akhir
ini, tak biasanya Aku keluar Kostan terlalu pagi untuk berangkat ke tempat
praktikan. Tepatnya pukul 05.30 Aku sudah berkeliaran mencari angkot. Tak
pernah terjadi selama hampir dua bulanan masa praktikan berjalan. Karena bisa
dibilang Aku adalah Guru praktikan yang paling sering telat dibandingkan
kawan-kawan lainnya.
Pernah
aku berlari-lari keluar gang kostan sambil menenteng sepatu. Saat bersamaan Aku
sudah ditunggu kawan praktikan lainnya yang duduk manis di dalam angkot dan
dicampur sedikit kesal dengan ulah keterlambatan Ku. Ada juga dilain hari, Aku
berbohong dengan kawan-kawan praktikan kalau Aku sudah berdiri tegap ditempat
pemberangkatan, padahal Aku masih menyarung
sepatu didepan kostan.
Hal
itu jelas, sebuah ulah yang tak bisa dianggap biasa-biasa saja. Karena akan
berdampak keharmonisan dengan kawan-kawan praktikan. Meskipun mereka terbiasa
merajut sabar dan merangkai senyum dengan ulah Ku, tetap saja ini adalah tindakan
yang tidak terpuji, dan akan berdampak buruk, terutama bagi kedisiplinan
diriku.
Mereka
sangat baik untuk Ku. Pernah suatu hari, keterlambatan aku mencapai puncaknya.
Hampir pukul tujuh pagi Aku belum tiba ditempat pemberangkatan. Senyum dan
sabar mereka sedikit goyah, dan Aku pun harus rela ditinggal mereka. Tapi
hampir separuh perjalanan, mereka menguatkan kembali fondasi sabar mereka. Dan
Aku pun ditunggu untuk berangkat bersama-sama.
Aku
keluar kostan sangat pagi bukan lah minta di puji untuk padek ataupun pujian yang
baik lainnya. Pertama, Aku ingin merangkai keikhlasan didalam semyum
kawan-kawan praktikan yang selalu kesal menunggu aku ditempat keberangkatan.
Setiap pagi mukanya asem melihat ulah Ku. Tetapi ada juga yang tertawa melihat
hal ini. Mereka anggap ini sebiauh keunikan dan lucu. Relatifnya sikap
seseorang.
Kedua,
Aku ingin mengimpaskan rasa bersalah Ku selama ini, Aku juga ingin membiasakan
disiplin untuk hal-hal yang kecil. Juga Aku ingin menjadi calon Guru yang
ramah. Aku ingin berangkat lebih awal sebelum kebanyakan para siswa yang tiba
di sekolah. Aku ingin menyapa mereka dimuka gerbang sekolah dan memberi senyum
para Guru-Guru dan siswa. Ada yang bilang ini adalah tindakan terpuji. Tetapi
ada juga yang bilang itu sebagai langkah untuk mencari perhatian kepada
guru-guru dan siswa. Ternyata begitu relatifnya sebuah tindakan.
Ketiga,
Aku ingin mencari celah waktu untuk berkomunikasi siswa yang datang lebiah
awal. Karena pada saat waktu pelajaran sedang berlangsung, hampir Aku tak punya
waktu untuk berinteraksi dengan siswa. Hal ini disebabkan tidak ada waktu
khusus kelas Bimbingan dan Konseling seperti Guru-guru praktikan lainnya. Aku
ingin menumbuhkan suasana yang bersahabat dengan para siswa-siswa yang telah
mempunyai penilaian beragam dengan sifat Ku selama praktik. Ada siswa bilang
Aku adalah Guru praktikan yang cerewet, selalu melarang mereka untuk
bermain-main saat jam pelajaran, ribut, tidak disiplin. Tetapi ada juga yang
bilang Aku Guru praktikan yang menyenangkan, nyaman untuk berbagi (curhat), dan
peduli terhadap mereka. Ternyata begitu raltifnya sebuah sifat.
Tapi
sayangnya keinginan pada poin ke dua dan ketiga sangat sulit untuk terwujud.
Meskipun aku keluar lebih pagi dari itu, tetap saja tiba disekolah pukul tujuh lewat
seperempat dan kadang lebih. Sehingga aku tidak bisa mempunyai banyak waktu
sebelum jam pelajaran dimulai. Jelas, hal ini disebabkan kondisi angkot. Karena
angkot jurusan ke tempat praktikan beroperasi pukul setengah tujuhan. Jadi mau
menunggu pukul berapa pun ditempat keberangkatan tetap tiba pukul tersebut.
Begitulah, betapa relatifnya kedatangan angkot