KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Tuesday, 19 July 2011

Diary Syarifah

Kegemaan sore mulai tertampakkan. Burung-burung mengitari pemandangan langit jingga. Angin tak henti-hentinya mengejar awan hingga keujung dunia, juga menerbangkan debu-debu dan mengayunkan daun niur dibelakang rumah Hadi. Kegaduhan anak-anak yang berlari keluar dan masuk rumah untuk bermain kejar-kejaran juga melengkapi suasana rumah Hadi. Kedaan rumah itu tak ubah seperti seimbang luar dan dalam.
Suasana itu tak menarik perhatian Hadi sama sekali. Hadi tetap duduk melamun saja di sudut teras rumahnya. Dia seperti terbius, diam bagaikan orang bisu.
Sekitar lima belas menitan dia sibuk dalam lamunan nya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh Ibu nya.  “Hadi” teriak Ibunya. Teriakan itu juga diikuti ganggang sapu yang  mencolek bahu hadi.
“Melamun saja dari tadi, ada apa kamu nak?” tanya Ibu Hadi yang kian penasaran karena akhir-akhir ini Hadi selalu menyendiri dan dilengkapi dengan lamunan panjang.
“Tidak apa-apa Bu, Hadi cuma ngantuk karena nonton bola semalam” jawab Hadi lesu.
“Ya sudah, sekarang cuci muka dulu. Tadi ada kiriman paket yang dikirim Pak Saleh dari pos untuk kamu. Ibu letakkan dimeja kamar kamu”
“Kiriman apa bu?” tanya Hadi bingung.
“Tidak tahu Ibu, sepertinya buku” jawab Ibu Hadi seadanya.

Hadi bergegas kekamar mandi. Dia mencuci muka dan langsung berlari kekamarnya. Dalam hati Hadi timbul kegembiraan yang diiringi kepenasaranan. Disisi kegembiraannya, Hadi menyangka dia memenangkan lomba menulis yang diadakan oleh majalah lokal didaerahnya. Disisi kepenasaranannya, dia memikirkan buku apa lagi yang dihadiahkan.
Hadi memulai dengan merobek bagian atas bungkusan itu. Perlahan dia membukanya dengan penuh deg-degan. Karena kiriman tersebut tidak dituliskan nama pengirimnya.
“Surat, surat apa ini?” Hadi memulai dengan kebingungan tentang kiriman paket itu.
“Diary, kertas tiga lembar” Hadi dililit kepenasaranan yang teramat. Karena bingung atas kiriman tersebut. Langsung saja Hadi melihat diary tersebut. Kertas tiga lembar itu diletakkannya di meja.
“Dear kak Hadi”. Tulisan yang terukir disampul diary kusuh itu.
Hadi langsung saja bersandar didinding kamarnya sembari membaca lembaran dan diary itu.
***
Assalamualaikum. Wr. Wb
Apa kabar, Kak? Semoga Allah senantiasa menjaga mu dan selalu memberi nikmat Iman dan sehat.
“ Jadikan apa yang ada disekitar kita sebagai kendaraan untuk mendekatkan diri kepada Allah ”
Semoga Motto itu selalu menjadi kan Syarifah yakin kalau keadaan Kakak sesuai dengan Syarifah harapkan.
Oya, adik-adik dan orang tua kakak apa kabar? Sudah lama Syarifah tidak teleponan dengan mereka. Nomor dan HP yang lama Syarifah hilang, jadi kontaknya sudah tak ada lagi. Syarifah titip salam dengan mereka ya kak.
Kak, Syarifah kangen. Tetapi kangen Syarifah bukan seperti dulu lagi, bukan kangen saat kita pacaran. Syarifah kangen saat pertama kali kita bertemu. Ingat tidak, waktu kakak jadi pengurus di organisasi kampus kita. Saat itu kakak begitu berwibawa dan selalu memberi nasehat dengan Syarifah dan kawan-kawan tentang kehidupan dan Islam.
Kak, maaf mungkin isi paket ini agak konyol. Syarifah terpaksa menulis dilembaran binder ini untuk rangkaian kata-kata pertama. Sebenarnya sudah Syarifah tulis rapi di diary. Tapi, saat menulis terakhir, tiga lembar pertama diary ditumpahi minuman Syarifah. Jadi terpaksa Syarifah sobek dan diganti dengan lembaran binder ini. Oh ya, kakak masih ingat kan dengan diary ini. Diary yang kita beli saat peringatan hari jadi kita pacaran. Tapi sudah, lupakan saja tentang itu.
Kak, maaf Syarifah tidak memberi kabar tentang kepindahan kuliah Syarifah. Syarifah menghilang begitu saja tanpa ada kabar. Syarifah menyuruh keluarga dan teman Syarifah menyembunyikan tentang informasi Syarifah. Sebenarnya Syarifah bukan melarikan diri, tetapi Syarifah hanya ingin sebuah perubahan di diri Syarifah dan kakak.
Kak, kakak ingat kan waktu kita membuat janji di atas perahu didanau gersang yang menjadi sejarah kisah remaja kita. Waktu itu kita sama-sama tidak mengerti tentang pacaran. Waktu itu kita membuat sejarah hidup yang tak pantas diulang lagi. Kita memulai pacaran pertama kalinya. Entah, tiba-tiba perasaaan itu menggerogoti cinta kita dihati selain cinta yang hakiki pada sang Ilahi.
Meskipun janji kita sangat lah indah, dengan pacaran kita lebih memacu diri untuk saling mengingatkan tentang ibadah dan membawa kebaikan. Tetapi tetap saja itu sudah tindakan yang salah pada akhir ceritanya. Apa ada dari janji-janji kita yang ditepati? Apa kita semakin dekat dengan Allah? Apa kita semakin meningkatkan prestasi? Kebaikan apa yang kita perbuat? Tidak ada kan kak. Yang ada malah sebaliknya.
Pada awalnya kita saling mempercayai satu sama lain. Kita mencari image dan memberi keyakinan kalau berpacaran dapat membuat kita semakin baik dan bermanfaat. Kita sangat senang dan membanggakan semua dengan orang-orang terdekat kita, bahkan keluarga kita tak lagi memberi larangan karena begitu senangnya.
Tetapi waktu mengacaukan semuanya. Karena semakin hari kita jalani, semua perlahan tak berjalan lurus sesuai misi atau janji yang telah dipatri. Waktu-waktu bersama yang dijalani semakin memberi kesan kemunduran.
Alasan kita begitu aneh. Takut kehilangan. Karena cinta kita sudah menyatu utuh. Kita menjalani masa-masa berpacaran hanya untuk meyakini satu sama lain kalau kita tidak akan berpisah. Kita selalu bertemu, saling cemburu. Sehingga waktu dihabiskan untuk membahas masalah-masalah yang tak penting.
Dengan keadaan kita berpacaran, kita semakin menjauh dari teman-teman. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu berdua. Sepulang kuliah kita selalu mencari celah untuk bertemu. Kita mengabaikan ajakan teman-teman berkumpul untuk rapat organisasi, belajar kelompok ataupun ikut kegiatan-kegiatan untuk mengembangkan diri kita. Secara perlahan kita menjadi lazim dan legal dengan hindaran itu.
Ingat tidak, saat azan berkumandang kita masih asyik bercanda, atau ribut, atau beraktivitas berdua. Kita mengabaikan semua panggilan Allah. Kita membuatNya cemburu. Ingat tidak waktu belajar kita dihabiskan untuk telepon-teleponan dan sms-an. Kita selalu dibayangi takut akan perpisahan dan membunuh kecemburuan. Kita selalu mengawasi kalau kita tidak mempunyai pacar lain.
Tapi biarlah kak. Syarifah sadar itu masa lalu. Dan jangan sampai kita terulangi lagi. Karena itu membuat kita murka di hadapan Allah.
Sekarang Syarifah tambah cantik kak. Syarifah uda bisa berpenampilan yang islamic. Jilbab Syarifah udah benar dan jeans-jeans Syarifah uda dipanti kan. Syarifah sudah ikut pengajian lagi, aktif berorganisasi dan nilai Syarifah uda membaik. Teman Syarifah banyak kak, mereka baik, mereka selalu mengingatkan Syarifah.
Kak, kita uda lama berpacaran. Sudah tiga tahunan lebih. Syarifah rela meninggalkan kuliah Syarifah disana dan pindah dikampus baru demi kebaikan kita. Syarifah tidak mau kita larut dalam kemaksiatan dan kemubaziran. Allah sayang kita kak. Allah memberi kemudahan perpisahan kita.
Kak, Syarifah tidak tahu keadaan kakak sekarang. Apa kakak sudah menemukan pengganti Syarifah atau belum semenjak kepergian ini. tapi Syarifah harap jangan dulu. Kak, Syarifah berharap bisa hidup dengan kakak selamanya, tetapi secara halal. Karena keluarga kita sudah merestui kita. Tetapi kita tidak akan mungkin menjalaninya sekarang. Karena kita belum mandiri. Kita raih cita-cita dulu. Baru kemudian kita menikah.
Kakak pasti mempunyai harapan yang sama dengan Syarifah. Syarifah bukan takut masalah jodoh. Tapi jujur, Syarifah benar-benar sayang dengan kakak. Tetapi cara kita  memberlakukannya selama ini tadi salah.
Kak, ingat kan janji sang khalik. Lelaki yang baik, untuk wanita yang baik. Begitupun sebaliknya. Dari itu Syarifah harap kakak harus kembali ke keadaan semula. Saat kita belum berpacaran. Saat kakak selalu menjadi kebanggan Syarifah dan kawan-kawan karena selalu memberi motivasi-motivasi. Karena dengan kebaikan kita, akan mempermudahkan Allah mengabulkan harapan kita untuk bersama. (bersambung...)
Kak, maaf tulisan di dua lembar terakhir agak ngaur isinya dan tulisannya agak tak rapi. Semalam Syarifah sudah ngantuk, tetapi Syarifah memaksakan juga menulisnya. Jangan terlalu berkesimpulan yang aneh-aneh ya kak tentang tulisan dilembaran terakhir itu.
Hem... Pagi ini sangat cerah. Syarifah duduk ditaman kampus sambil menulis diary ini. hari ini Syarifah masuk kuliah agak siang, kawan-kawan belum ada yang datang. Syarifah sendiri kak ditaman. Syarifah gak tau mau menulis apa lagi. Masih ada tiga lembar lagi kak.
Oh ya kak, diary yang dipegang kakak ditulis ya. Entah tentang apa saja. Nanti dikirim kerumah Syarifah saja. Biar adik Aisyah yang kirim ke tempat Syarifah. Sekali lagi Syarifah minta maaf, Syarifah belum bisa memberi tahu dimana Syarifah sekarang. Tetapi, yang jelas Syarifah baik-baik saja, dan InsyaAllah lebih baik dari yang dulu.
Kak Syarifah tulis puisi saja ya. Karena Syarifah tidak punya lagi kata-kata yang ingin ditulis di diary ini. semoga puisi ini berkesan.

Waktu demi waktu, kini meninggalkan masa lalu.
Saat kebersamaan, keceriaan, tinggallah dalam kenangan.
Sekarang, kita harus menempuh hidup baru.
Hidup yang mendamaikan hati, hidup yang hakiki.

Saat ini mungkin sulit kita melupakan.
Kisah-kisah bersama selalu terbayang.
Senyum-senyum diantara kita sering menerawang.

Tapi kusadar, selama ini kita salah.
Kita mengartikan sebuah kebersamaan dengan tindakan yang salah.
  
Aku hanya sedikit menggores kan tinta pena ini.
Hanya merangkai kata-kata dari sang pentitah.
Pentitah yang selalu membisikkan arti  kehidupan.

Cinta diantara kita adalah impian.
Tetapi jangan terus mengimpikannya.
Biarkan semua dijawab dengan waktu yang tepat.
Sekarang kita perbaiki diri.
Untuk mempermudah ikrar yang suci.

Cinta itu tidak buta.
Tetapi terkadang kita lah yang dibutakannya.
kita melangkah atas nama cinta yang salah
Cinta yang membuat Sang Pemilik Cinta mengurangi cinta buat kita.

Cinta itu keikhlasan.
Tetapi terkadang kita lah yang memaksakan bentuknya cinta.
Kita mengartikan cinta dengan hina.
Kita berharap imbalan lebih dari cinta.
Mengharap cinta dengan berdusta.
***
Setelah membaca lembaran kertas dan diary itu. Langsung saja Hadi mengunci pintu kamarnya. Hadi kembali terdiam, dan sedikit diiringi linangan air mata yang ragu ingin terteteskan atau tidak. Bahkan diam kali ini lebih dari sebelum Hadi membacanya dan juga lamunan-lamunan sebelumnya.
Hadi seperti mendapat biusan baru yang tak kalah hebat dari sebelumnya. Biusan yang membangunkan dia tentang arti perpisahan dan kebersamaan yang sesungguhnya.

Tenda Bersaksi


Di tenda ini.
Kebersamaan tak lagi berarti.
Perpecahan sudah terpublikasi.
Karena sebuah perbedaan visi.
Demi sebuah legalisasi, untuk organisasi.

Di tenda ini.
Semua menjadi saksi.
Atas kebisuan yang menghakimi.
Saat torehan tak bisa di gubrisi.
Saat sahutan disambut tuli.
Dan salam dijawab sunyi.

Di tenda ini.
Suasana penuh emosi.
Kebencian kian mematri diri.
Karena sebuah iri yang terjadi.
Atas ketidakseimbangan sebuah kondisi.
Ketika kebersamaan jadi kunci.
Di tenda ini.
Eksistensi menjadi kompetisi.
Demi mencari pengakuan diri.
Yang terukir karena gengsi.
Untuk menunjukkan pemenang sejati.

Di tenda ini.
Kita tak lagi fokus menanti regenerasi.
Yang diharapkan untuk mendinamisasi organisasi ini.
Tetapi hanya mencari amunisi.
Untuk sebuah reputasi.
Kalau kita banyak pasukan yang siap menjadi kenti.
Untuk melengkapi sebuah misi.

Di tenda ini.
Sudah yang kesekian hari.
Kita tetap meneguhkan diri.
Mencanangkan sebuah gengsi.
Tidak untuk bersama kembali.
Karena identitas yang telah terbagi.

Di tenda ini.
Berharap ada seorang panji.
Yang bisa memerdekakan seonggok gengsi.
Untuk menyelamatkan ikrar suci.
Yang diraungkan para pendahulu, yang telah pergi.

Di tenda ini.
Aku menuliskan catatan mini.
Karena suara tak mampu lagi meraung, oleh keramaian sunyi.
Berharap ada kesadaran diri.
Untuk memulai kedamaian seperti dulu lagi.
Meski itu hanya mimpi.

Di tenda ini.
Di lampik, yang kita tapaki.
Tepat Di belakang ormawa daerah OI dan GNMI.
IKMS ini terbagi.

Saturday, 16 July 2011

Muratara, Impian dan Untuk Siapa?


Muratara! Itu lah topik pembahasan terhangat kalangan elite didaerah ku. Mengalahkan berita-berita kriminalitas atau pun gosip-gosip para selebritis yang sama marak, bahkan lebih marak daripadanya.
Dulu, beberapa tahun yang lalu (tepatnya masih SMP), sama seperti kebanyakan masyarakat lainnya, aku tak pernah tahu tentang Muratara. Terlintas dalam ingatanku, hanya beberapa hari kata-kata Muratara mengguncang desaku. Masyarakat kami disibukkan tentang pemekaran wilayah, tepatnya pembentukan Kabupaten baru. Itu pun mereka (lupa siapa, yang jelas ada seseorang dan  kelompoknya) hanya memeberi buku yang tak ubahnya seperti lembaran persetujuan bahwa   masyarakat desaku ikut mendukung pembentukan Kabupaten baru itu. Tanpa ada pemahaman berarti tentang maksud semua itu. Meski demikian, mereka tak terlalu mempermasalahkan itu. Masyarakat desaku larut dengan semangat kebersamaan (ikut-ikutan) dan juga sebagian kecil, yang sangat kecil adalah kepentingan lain dari tujuan yang sesungguhnya.
Masyarakat ku dengan semangatnya meneteskan tinta pena untuk menandatangani lembaran itu. Penuh sudah lembaran itu dengan rangkaian tanda tangan. Bisa disimpulkan, masyarakat kami setuju semua dengan pemisahan wilayah dari Musi Rawas. Meski demikian, mereka tidak mengerti dengan semua itu. Ya, karena tadi, hanya ikut-ikutan.
Tapi,  beda hal nya dengan sekarang. Sedikit demi sedikit, aku tahu tentang Muratara. Setidaknya kepanjangan dari itu, atau juga yang lainnya adalah kecamatan-kecamatan yang termasuk didalamnya.
***
“ Muratara impian 200 ribuan masayarakat tujuh Kecamatan ”
“ Muratara punya SDA yang berlimpah ”
Itu kurang lebih tulisan-tulisan yang sering diutarakan di situs jejaring sosial facebook tentang Muratara. Bahkan lebih dari hitungan jari sebelah tangan, grup-grup di facebook yang mengatasnamankan pergerakan Muratara atau tentang Muratara lainnya. Ini semua saking semangatnya.
Sedikit uraian tentang pernyataan yang sering muncul itu. Mungkin lebih tepatnya pertanyaan-pertanyaan.
Jika Muratara impian 200 ribuan masyarakat di tujuh Kecamatan, lantas masyarakat yang mana?
Sekedar informasi dan contoh ketidaksinkronnya pernyataan tersebut. Adalah pengalaman pribadi bersama rekan-rekan Mahasiswa di tujuh Kecamatan itu. Awal Februari lalu kami mengadakan kegiatan penggalangan dana untuk korban bencana di Indonesia “Dari kita untuk bangsa, Muratara peduli sesama”. Pada setiap tempat yang kami datangi (rumah, toko dan gardu-gardu) di beberapa desa di lima Kecamatan (Rupit, Rawas Ulu, Karang Jaya, Karang Dapo, dan Rawas Ilir), timbul kepenasaranan warga tentang warna-warni almamater kami dan maksud tujuan kami. Sebagian kecil warga menyangka kami kampanye partai politik/ calon bupati atau apalah yang bisa dikampanyekan. Tetapi kebanyakan mereka sudah mengetahui kami adalah seorang Mahasiswa sedang mengadakan kegiatan, yang disangkanya KKN atau praktik lapangan dari kampus.
Ketika kami membuka ramah-tamah untuk mengajak berpartisipasi (ikut menyumbang), mereka juga penasaran lagi. Ya, tentang rombongan kami. Tetapi dengan lantang kami menjelaskan bahwa kami adalah mahasiswa Muratara. Tetapi penjelasan kami justru lebih membuat penasaran yang teramat dari sebelumnya.
“ Mahasiswa muratara. Mahasiswa dari mano tu? Dari Jakarta apo dari Linggau siko lah? ”. Kata-kata ini sangat sering mengiang ditelinga kami. Hanya bisa tersenyum!
Melihat pemandangan ini. Bisa disimpulkan bukan, tentang pengetahuan masyarakat mengenai Muratara. Sekedar kata-kata Muratara saja tidak tahu, bagaimana mereka mau paham. Jika dipresentasekan, sekitar 80 persen warga yang kami datangi untuk meminta bantuan (berpartisipasi dalam ikut menyumbang) menanyakan kata-kata itu. Muratara! Jika kami masuk kedaerah yang lebih dalam lagi jangkauannya, mungkin waktu kegiatan kami hanya dihabiskan untuk menjelaskan identitas kemahasiswaan daerah kami. Untung nya kami hanya menjelajahi daerah dan tempat yang tidak seperti itu.
Semua orang pasti tahu, untuk menggapai suatu impian harus tahu cara untuk meraihnya. Sedangkan disini bisa dilihat bahwa masyarakat yang dikatakan mengimpikan Muratara, tak pernah tahu tentang impiannya sendiri, apalagi mau mengetahui cara meraihnya. Aneh nya, yang dikatakan impian mereka secara ghaib timbul dipermukaan umum, dan menjadi senjata untuk meyakinkan pihak-pihak lain.
***

“ Dari 205 wilayah yang dimekarkan, 80 persen diantaranya dinilai telah gagal. Banyak wilayah yang ingin melakukan desentralisasi namun tidak melihat aspek kemampuan yang dimiliki. Bahkan pemekaran wilayah ditengarai menumbuhkan kantong-kantong korupsi didaerah itu dan lebih mengedepankan semangat kedaerahan yang berlebihan ” (sumber: majalah parlementaria. Edisi 78 th.xli, 2010)
Kutipan diatas adalah sebuah pelajaran yang sangat harus diperhatikan dan diteladani. Bukan sebuah intimidasi, tetapi sebagai antisipasi.
“ Muratara punya SDA yang berlimpah ”. Daerah Muratara harus menjadi wilayah definitip, agar aset penyumbang anggaran terbesar di Kabupaten Musi Rawas ini dapat diolah dan digunakan untuk pembangunan secara maksimal di tujuh Kecamatan ini. Sehingga cita-cita  untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pembangunan yang merata, mengurangi pengangguran dan bahkan meminimalisirkan aktivitas-aktivitas kriminal dijalanan daerah Muratara (mungkin) dapat terwujud.
Sebuah ide dan perencanaan bagus tanpa solusi dan antisipasi. Bukan mengecilkan tentang arti sebuah SDM dimasyarakat kita. Tapi pada kenyataan sudah tampak jelas dalam penglihatan kita. Mungkin sekarang ada dan banyak SDM itu. Tetapi untuk periode kedepannya, akankah ambur adul dan terjajah oleh orang asing? Sedangkan regenerasi yang diharapkan menjadi iron stock, kian buram, karena kelengahan dari perhatian dari kaum-kaum elite diwilayah ini.
Yang terhenti pendidikan pada SMA sederajat dan kebawahnya, dibiarkan untuk mandiri, yang pada ending nya menjadi “over mandiri”. Sedangkan yang lagi berakademisi dan giat menekuni disiplin ilmunya, tak pernah dirangkul. Selesai study, mereka dibiarkan merantau dari wilayah sendiri.
Jika Muratara menjadi definitip, siapa yang mengolah SDA itu? Apakah kita harus tetap teguh dengan asas kekeluargaan atau kebersamaan (ikut-ikutan) yang tak memandang tujuan? Apakah kita membiarkan semua aset-aset itu diolah oleh orang-orang yang tidak mempunyai SDM yang mumpuni, dan pada akhirnya membuka kesempatan-kesempatan untuk mempraktekkan KKN?
Jika ujung-ujungnya seperti ini, tercapai tidak cita-cita itu? Tidak kan!

***
Kami sangat mengharapkan sekali terbentuknya Muratara. Tetapi tolong kami dilibatkan, Kami tidak terlalu berharap pada tempat-tempat/ posisi yang tinggi di daerah ini. Cukup kami menjadi bagian terpenting dan berarti (bermanfaat dan nyaman) untuk masyarakat kita tercinta ini.