Aku hanya berpikir dan yakin bahwa keadaan itu
(pacaran) akan menjadi
rem tak bermakna yang berfungsi menghenti laju kehidupan yang penuh impian. Aku
melihat realita yang ada, dimana mereka yang berada dalam lingkaran itu sudah
tentu menampakkan sebuah kemunduran dan keterhambatan. Meskipun ada segolongan sangat
amat kecil yang berhasil
menjadikan itu sebagai pedal laju spirit dalam menjalani kesehariannya yang
berujung pada sebuah pencapaian.
Memang pada awalnya semua berjalan sesuai misi yang ada. Banyak kebaikan dan kebermanfaatan yang ditimbulkan. Menjadi sebuah kebanggan tersendiri. Meskipun diri telah menekadkan bahwa itu bukan sekedar “pacaran” yang kemudian membuat ketakutan-ketakutan di diri akan sebuah perpisahan. Yang pada akhirnya keadaan itu berubah menjadi aktivitas yang diisi dengan perbuatan yang menghindarkan sebuah kebencian. Tak ada lagi kiat untuk saling menyemangati, yang ada hanya menghabiskan waktu untuk membuat keyakinan kalau rasa sayang hanya untuk berdua.
Seiring berjalan waktu misi itu semakin berjalan menyimpang. Hingga pada akhirnya kian mendekatkan diri pada sebuah kehinaan. Alasan dasarnya untuk menghangatkan hubungan agar saling meyakini satu sama lain kalau kata perpisahan tak akan pernah terjadi. Pacaran tak lagi menjadi ancaman yang bisa menyudutkan diri..
Tahukah kamu?
Didalam pacaran, kita mengenal cinta dan sayang. Tetapi pada akhirnya kita mengenal kebencian dan permusuhan
Didalam pacaran, kita mengenal kesetiaan. Tetapi pada akhirnya kita mengenal sebuah pengkhianatan.
Didalam pacaran, kita mengenal semangat dan kebaikan. Tetapi pada akhirnya kita mengenal keterpurukan dan keburukan.
Didalam pacaran, kita mengenal kegembiraan. Tetapi pada akhirnya kita mengenal kesedihan.
No comments:
Post a Comment
Ada Komentar?