KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Friday, 28 March 2014

Angkot, Antarkan Aku!

Akhir-akhir ini, tak biasanya Aku keluar Kostan terlalu pagi untuk berangkat ke tempat praktikan. Tepatnya pukul 05.30 Aku sudah berkeliaran mencari angkot. Tak pernah terjadi selama hampir dua bulanan masa praktikan berjalan. Karena bisa dibilang Aku adalah Guru praktikan yang paling sering telat dibandingkan kawan-kawan lainnya.
Pernah aku berlari-lari keluar gang kostan sambil menenteng sepatu. Saat bersamaan Aku sudah ditunggu kawan praktikan lainnya yang duduk manis di dalam angkot dan dicampur sedikit kesal dengan ulah keterlambatan Ku. Ada juga dilain hari, Aku berbohong dengan kawan-kawan praktikan kalau Aku sudah berdiri tegap ditempat pemberangkatan, padahal Aku masih menyarung sepatu didepan kostan.
Hal itu jelas, sebuah ulah yang tak bisa dianggap biasa-biasa saja. Karena akan berdampak keharmonisan dengan kawan-kawan praktikan. Meskipun mereka terbiasa merajut sabar dan merangkai senyum dengan ulah Ku, tetap saja ini adalah tindakan yang tidak terpuji, dan akan berdampak buruk, terutama bagi kedisiplinan diriku.
Mereka sangat baik untuk Ku. Pernah suatu hari, keterlambatan aku mencapai puncaknya. Hampir pukul tujuh pagi Aku belum tiba ditempat pemberangkatan. Senyum dan sabar mereka sedikit goyah, dan Aku pun harus rela ditinggal mereka. Tapi hampir separuh perjalanan, mereka menguatkan kembali fondasi sabar mereka. Dan Aku pun ditunggu untuk berangkat bersama-sama.
Aku keluar kostan sangat pagi bukan lah minta di puji untuk padek ataupun pujian yang baik lainnya. Pertama, Aku ingin merangkai keikhlasan didalam semyum kawan-kawan praktikan yang selalu kesal menunggu aku ditempat keberangkatan. Setiap pagi mukanya asem melihat ulah Ku. Tetapi ada juga yang tertawa melihat hal ini. Mereka anggap ini sebiauh keunikan dan lucu. Relatifnya sikap seseorang.
Kedua, Aku ingin mengimpaskan rasa bersalah Ku selama ini, Aku juga ingin membiasakan disiplin untuk hal-hal yang kecil. Juga Aku ingin menjadi calon Guru yang ramah. Aku ingin berangkat lebih awal sebelum kebanyakan para siswa yang tiba di sekolah. Aku ingin menyapa mereka dimuka gerbang sekolah dan memberi senyum para Guru-Guru dan siswa. Ada yang bilang ini adalah tindakan terpuji. Tetapi ada juga yang bilang itu sebagai langkah untuk mencari perhatian kepada guru-guru dan siswa. Ternyata begitu relatifnya sebuah tindakan.
Ketiga, Aku ingin mencari celah waktu untuk berkomunikasi siswa yang datang lebiah awal. Karena pada saat waktu pelajaran sedang berlangsung, hampir Aku tak punya waktu untuk berinteraksi dengan siswa. Hal ini disebabkan tidak ada waktu khusus kelas Bimbingan dan Konseling seperti Guru-guru praktikan lainnya. Aku ingin menumbuhkan suasana yang bersahabat dengan para siswa-siswa yang telah mempunyai penilaian beragam dengan sifat Ku selama praktik. Ada siswa bilang Aku adalah Guru praktikan yang cerewet, selalu melarang mereka untuk bermain-main saat jam pelajaran, ribut, tidak disiplin. Tetapi ada juga yang bilang Aku Guru praktikan yang menyenangkan, nyaman untuk berbagi (curhat), dan peduli terhadap mereka. Ternyata begitu raltifnya sebuah sifat.
Tapi sayangnya keinginan pada poin ke dua dan ketiga sangat sulit untuk terwujud. Meskipun aku keluar lebih pagi dari itu, tetap saja tiba disekolah pukul tujuh lewat seperempat dan kadang lebih. Sehingga aku tidak bisa mempunyai banyak waktu sebelum jam pelajaran dimulai. Jelas, hal ini disebabkan kondisi angkot. Karena angkot jurusan ke tempat praktikan beroperasi pukul setengah tujuhan. Jadi mau menunggu pukul berapa pun ditempat keberangkatan tetap tiba pukul tersebut. Begitulah, betapa relatifnya kedatangan angkot

No comments:

Post a Comment

Ada Komentar?