Dengan menyebut Nama Allah. Segala puji hanya tercurahkan bagi Allah SWT. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, segenap keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang selalu menorehkan keringat dan darah demi memperjuangkan Dien yang diridhoi Allah SWT.
Ketika sebuah keteladanan menjadi langka dinegeri kita tercinta. Ketika pribadi santun, bersih, toleran, konsisten, teguh pendirian bukanlah dongeng belaka. Perjalanan pengukir sejarah negeri, panutan bangsa Indonesia.
Sejarah Islam dipenuhi dengan peristiwa besar dan berpengaruh terhadap peradaban. Kita berada di sini, saat ini, dan dalam kondisi seperti ini adalah buah dari karya besar para pendahulu kita. Karena jasa merekalah saat ini kita menikmati kehidupan seperti sekarang. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita mengenang, mengingat, mempelajari, dan meneladani kehidupan dan perjuangan mereka.
Tak terkecuali orang-orang besar yang telah mengukirkan karyanya dalam sejarah adalah wanita-wanita Islam. Para muslimah bahu membahu, berkontribusi dan turut berjuang bersama kaum lelaki dalam membela yang hak. Musuh-musuh Islam tahu bahwa wanita merupakan salah satu unsur kekuatan masyarakat Islam. Musuh-musuh Islam telah menempuh berbagai cara untuk merusak wanita muslimah. Oleh karena itulah, kita harus kembali mengungkap kembali profil dan meneladani perjuangan wanita-wanita muslimah sebagai bekal untuk mengangkat harkat dan derajat wanita muslimah. Setiap pejuang muslimah memiliki keistimewaan dan sarat dengan nilai-nilai positif yang telah mengukirkan sejarahnya dalam sejarah Islam.
Melirik nama-nama wanita muslimah pengukir sejarah. Pasti sebagian orang-orang langsung membincangkan Khadijah R.A, mungkin juga Saudah binti Zam’ah. Sesosok wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya serta penderma. Wajar jika semua orang mengedepankannya.
Tapi, sebagai orang-orang yang berjiwa Nasionalis yang tinggi, tentunya kita tidak mengabaikan satu wanita yang bisa menjadi panutan para kaum Hawa era sekarang. ketika di masa tua dunia ini, para ladies lebih mengedepankan Luna Maya, Sandra Dewi, dan banyak lagi entertainer yang bukan sepantasnya menjadi cerminan untuk kehidupan. Layaknya kita kembali membuka tumpukan-tumpukan buku waktu mengenyam pendidikan Sekolah Dasar dan SMP. 21 April dua abad yang lalu tepatnya tahun 1879, negeri ini terlahirkan sesosok wanita dari keluarga bangsawan. Wanita yang geliat melawan himpitan Hegemoni, atas nama tradisi, dan atas nama Ilahi.
Ya, Raden Ajeng Kartini, yang lebih kita kenal dengan R.A.Kartini. Sebenarnya tidak ada yang perlu dibanggakan tentang Kartini pada kepemimpinan orde baru, nama ampuh yang dipakai untuk melumpuhkan semua imajinasi perempuan selama 32 tahun. Bagaimana tidak jengkel dengan sosok wanita tangguh ini, atas namanya, bertahun-tahun lamanya pergerakan perempuan digerakkan menjadi lomba kebaya, memasak dan paduan suara. Orang boleh saja mengatakan itu bukan salah Kartini tetapi salah penguasa pada saat itu yang menggunakan Kartini sebagai alat untuk membungkam tokoh-tokoh perempuan yang non-Jawa. Paling tidak dalam sejarah tercatat ada nama Siti Roehana dari Kotagadang, Sumatera Barat, lahir tidak beda jauh dengan Kartini pada tanggal 20 Desember 1884. Jasa Roehana mendirikan Sekolah Perempuan pada tahun 1911 dan mendirikan surat kabar perempuan pertama Soenting Melajoe pada tahun 1912 tidak terdengar gaungnya apalagi suaminya Abdoel Koeddoes adalah seorang pemberontak yang menentang Belanda.
Memang lebih tepat memilih wanita yang sering dijulukin “harum namanya” , sebagai ikon perempuan yang penuh semangat. Ya, pada surat-surat kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Kebanyakan surat-surat yang dibuat R.A kartini adalah tentang keluhan dan gugatan, Khususnya menyangkut budaya di jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dengan tekadnya, dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu.
Pada masanya, R.A Kartini juga memberi pandangan kritis mengenai tata cara beragama. Kata-kata kritisnya membuat kehidupan sosial pada saat itu sadar akan pentingnya sebuah Agama. “ mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa wajib dipahami”, Agama harus menjaga kita dari berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama Agama” bagian dari seberapa banyak kutipan R.A Kartini tentang Agama.
Adakah yang berbeda dari apa yang digoreskan Kartini tentang kebebasan dan perjuangan perempuan pada Era sekarang? Sepanjang sejarah tulisan perempuan yang dituangkan dalam bentuk esei, cerita, dan sajak masih mengungkapkan kegelisahan yang sama. Melalui berbagai variasi tema dan suara, kita melihat kontemplasi para penulis perempuan mengenai dunianya, pilihannya dan mimpi-mimpinya.
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS Yusuf: 111)
No comments:
Post a Comment
Ada Komentar?