KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Sunday, 7 November 2010

MENDAMBAKAN SEORANG WANITA IMPIAN SEPERTI KHADIJAH


Malam ini pikiran ku sedikit penat dan geram. Ini semua karena kelelahan pulang kuliyah. Hari ini kuliyah nya full, dari pukul 08.00wib sampai pukul 15.00, mana lagi ada syuro untuk kegiatan akhir smester. Jadinya sampai dirumah uda hampir maghrib. Lebih parahnya, sholat Maghrib dan Isya absen berjamaah di Masjid. Benar-benar hari yang futur selama smester ini, serasa malu menatap dunia lagi.
Meski badan sudah terasa dibanting, mata ini tak berkurang satu watt pun (ngantuk). Ditambah lagi dengan keadaan hari esok yang menguntungkan, yaitu libur. Untuk meminimalisirkan keadaan ini, game menjadi solusinya. Sampai-sampai makan malam pun jadi tak terpikirkan lagi.
Malam sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Suara-suara musik disekitar kost-an tak lagi terdengar. Perut pun akhirnya tidak tahan membungkam. Aku pun keluar rumah untuk mencari ganjalan perut. Tak ada pilihan untuk pukul segini kecuali menyantap nasi pecel lelel. Ya, kantin-kantin dan rumah makan sudah tak ada lagi yang buka. Lahap sekali makan malam ini, tak ada sedikit pun nasi yang bermukim di piring.
Selesai makan, aku bergegas pulang. Tapi, tiba-tiba dijalan aku bertemu kawan Opdik (sekarang P2K), Hamid namanya, Asalnya juga satu daerah dengan ku, Musi Rawas. kelihatannya dia juga baru sudah sarapan malam. “assalamualaikum akhi” sapa Hamid duluan. “dari mana malam-malam begini masih keliaran?”  Sambungnya. “waalaikumsalam, baru saja sudah makan. Habisnya aku baru lapar jam segini” jawab ku singkat. “oya akhi, saya nginap tempat kamu ya, karena malas mau pulang kekostan, gak ada angkot lagi yang berkeliaran” tawar si Hamid. “boleh tuh, tapi beliin makanan dong, masih kurang porsi malam ini” jawab ku sambil tersenyum. “badan kurus, makan banyak kamu ini boy” cetusnya.
Memang Hamid adalah kawan ku yang paling tidak perhitungan soal uang. Bukan boros atau sok dermawan, tapi sifat yang kupahami dari hamid adalah ia rela berkorban untuk menjaga keukhuwaan, termasuk uang.
Sepertinya Sekotak martabak  dan dua bungkus bandrek menemani kami ngobrol malam ini. “oyo bro, boleh curhat gak?” mulai Hamid membuka obrolan. “seperti cewek saja kamu ini Mid, pakai acara curhat-curhatan segala” jawab ku acuh sambil menuangkan bandrek ke dalam cangkir. “serius boy, ini masalah wanita idaman” tanggap Hamid . “iya..iya apa emang nya” jawabku bernada serius. “oyo kriteria cewek idaman kamu seperti apa?” Tanya Hamid santai. “cantik luar dalam bro, terutama kepribadiannya lah” jawabku. “Terus… kriteria cewek idaman kamu tu apalagi?”, tanya Hamid  yang sedang asyik menggigit roti bakarnya.
“Ehh… apa mid….”, aku sedikit terkejut kemudian tersenyum dan diam sejenak terlihat seperti sedang berpikir. “Kriteria cewek idaman yang akan aku jadikan istri yang lainnya seperti….” Berhenti sejenak, “Aku ingin sekali mendapatkan seorang istri yang tidak cengeng bila mendapatkan musibah boy.” Ujar ku
“Loch! Bukannya cengeng itu adalah tabiat wanita?”, timpal Hamid
“Sedih ketika ditimpa musibah adalah hal yang wajar dan manusiawi. Rasulullah dulu juga pernah menangis ketika putranya Ibrahim meninggal dunia. Cengeng yang aku maksud adalah teriak meraung-raung, meratap-ratap sampai-sampai menampar pipinya sendiri dan merobek bajunya. Menurut aku ini adalah kelakuan manusia yang nggak punya iman. Ini biasa mengundang murka Allah dan aku sangat tidak menginginkan istri yang seperti ini,” jelas ku dengan nada lembut.
“Aku juga mengimpikan wanita seperti istri Rasulullah, Khadijah. Istri yang mempunyai Sikap Berani Mengambil Keputusan yang Didasarkan pada Kebaikan dan Kebenaran”. Lanjutku sembari mengambil buku tentang kisah-kisah wanita pengukir sejarah bagian 1.
Kubuka buku yang ku ambil, sembari baring, Lalu kubacakan buku itu dengan nada lantang. “Nama lengkapnya Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abd Al Uzza’. Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya. Pada masa jahiliyah ia dipanggil Ath Thaharoh (wanita suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Orang-orang Quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita Quraisy. Sebelum bertemu Muhammad, Khadijah telah menjadi saudagar yang terkenal dengan kemuliaan akhlaknya. Para pegawai dalam perniagaannya mengakui bahwa Khadijah mengelola dan menempatkan hak-hak mereka secara bijaksana. Sebagai pemimpin sebuah perusahaan perniagaan Khadijah selalu menempa kejernihan mata hatinya untuk memilih antara yang membawa kebaikan dengan yang mengarah pada keburukan dan kerugian. Oleh karena itu, ketika bertemu dan mendengar perihal Muhammad SAW, Khadijah mampu melihat keluhuran dan kemuliaan Muhammad SAW. Sehingga ketika Beliau mengajukan lamaran, dengan keyakinan penuh Khadijah menerimanya.”
            “Setelah menjadi istri Muhammad SAW, Khadijah kembali menunjukkan sikap kepahlawanannya. Ketika Muhammad SAW menerima wahyu pertama, beliau merasa takut dan ragu. Dukungan Khadijah tidak berhenti di awal masa kenabian saja. Saat kaum muslimin menghadapi kesulitan dan rintangan dari kafir quraisy, Khadijah senantiasa bersikap patriot dengan selalu mendampingi Rosululloh dan memberi semangat kepada kaum muslimin agar pantang menyerah.
 “sudah.. sudah.. sudah.. biar aku baca sendiri saja besok. Lagian juga sudah malam, nanti sakit juga karena kekurangan tidur.” Cetus Hamid. “ehem.. okelah kalau begitu. Tapi ingat carilah wanita yang bisa memberi kita semangat dalam berdakwah.”
“ya insya allah. Yang pasti kita tidak bisa menemukan wanita yang mempunyai karakteristik yang sama persis dengan khadijah, tetapi setidaknya pemikiran wanita idaman kita sama seperti khadijah.” Jawab hamid dengan kata bijaknya.

“Oke boy, aku sepakat” balasku dengan bernada ngantuk. “ya udah, sekarang saatnya tidur. Sudah pukul 02.00 ini. Nanti telat shubuh lagi.” Ajak Hamid. Kami berdua langsung bergegas ke kamar, meski dalam keadaan ngantuk tapi bayangan tentang wanita impian seperti mulai menghantui ingatanku. Pukul 02.00, semestinya terisikan dengan shalat tahajjud, tapi baru memejamkan mata. Benar-banar malam yang menjadi permulaan aku untuk secara perlahan mulai memikirkan seorang wanita impian yang insya Allah akan damai untuk dijadikan istri.

No comments:

Post a Comment

Ada Komentar?