KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Sunday, 13 March 2011

HARAPAN LUCU DI BERINGIN JAYA


Pesta demokrasi di desa beringin jaya telah usai. Banyak perasaan yang mengiringi pasca pemilukades hari itu, sedih, marah, benci, senang. Hampir dibilang semua perasaan itu berbagi.
Tetapi beda hal dengan diri ku. Aku melihat sebuah pemandangan lucu yang menghiasi pesta demokrasi di beringin jaya. Bukan mengenai siapa yang terpilih menjadi kepala desa ataupun jalannya pemilukades, tetapi tentang geliat masyarakatnya.
Sudah jelas beringin jaya hidup dalam masa transisi, dimana mencari identitas diri sebagai desa pemekeran untuk menjadi depinitif. Praktis jika mau menjadi desa di akui dan tidak lagi bergantung pada desa induk, desa beringin jaya harus mandiri dan punya pemimpin.
Pada pelaksanaan pemilukades tepatnya kamis 30 desember 2010, menjadi saksi ketertawaan ku.  Jelas sudah pada ingatanku kalau calon kades pada pemilihan itu hanya tunggal, satu calon. Pada hasil final penghitungan suara dengan mata pilih 800-an, hampir separuh yang tidak mau memilih kepala desa. Praktis masyarakat desa beringin jaya hampir tidak merdeka, alias mengubur impian untuk menjadi desa depinitif.
Padahal sudah jelas sebelumnya masyarakat beringin jaya dengan gigihnya ingin memperjuangkan terbentuknya desa pengakuan. Tetapi pada saat cahaya keberhasilan itu talah nampak, tak ada satu pun yang berani menatapnya. Ini terbukti pada saat sebelum pesta demokrasi dilaksanakan. Panitia pemilukades beringin jaya hampir gagal melaksanakan pesta demokrasi tersebut. Bukan karena tak ada kesiapan ataupun masalah lain, tetapi hanya karena tidak ada yang mau menjadikan diri sebagai nahkoda  yang mengarungi samudera kehidupan masyarakat di desa itu. Hingga pendaftaran pencalonan  di buka 2 gelombang. Pada gelombang ke dua pun hampir gagal, karena masih tak ada yang mengajukan berkas untuk mendeklarasikan sebagai calon kades. Sampai pada detik-detik terakhir ada satu nama dengan semangatnya mendaftarkan diri. Sungguh pemandangan lucu, mau merdeka (menjadi desa mandiri, depinitif) kok tidak mau ada pemimpin. Bisa-bisa masuk ke desa induk lagi tuh!!!
Tetapi sekarang Beringin Jaya sudah merdeka. Beringin Jaya sudah berhasil bebas dari keterbatasan untuk membangun. Mereka sudah punya pemimpin baru, yang khusus menahkodai beringin jaya.
Selamat berjaya Desa kelahiran ku!

No comments:

Post a Comment

Ada Komentar?