*Sebuah Makalah Tugas Akhir yang disusun bersama-sama teman se-kelas
Dalam menjalin hubungan dengan orang tua, guru perlu memahami bahwa ada reaksi para orang tua terhadap anak mereka yang berkesulitan belajar. Menurut Lerner (1988 : 154) ada tiga macam reaksi para orang tua terhadap anak mereka yang berkesulitan belajar, yaitu :
1. Menolak atau tidak dapat menerima kenyataan
2. Kompensasi yang berlebihan
3. Menerima anak sebagaimana adanya
Sikap menolak atau tidak dapat menerima kenyataan sering diperlihatkan dalam bentuk adanya hubungan sayang-benci dan menerima-menolak anak. Hubungan sayang-benci merupakan sikap ambivalensi, kadang-kadang sayang dan kadang-kadang benci terhadap anaknya yang tergolong berkesulitan belajar. Begitu pula dengan sikap menerima-menolak, orang tua di suatu saat dapat menerima anak sebagaimana adanya tetapi di saat lain menolak. Sikap orang tua yang membenci dan menolak anak berkesulitan belajar tidak hanya dapat menghambat anak untuk menyesuaikan diri dengan kesulitannya tetapi juga menghambat komunikasi di dalam keluarga sehingga pada gilirannya dapat menimbulkan rasa tidak aman pada anak. Bentuk reaksi kompensasi yang berlebihan tampak dari adanya kecenderungan orang tua untuk bersikap tidak realistik, kaku atau keras, dan memberikan perlindungan yang berlebihan. Orang tua semacam itu sering memperlihatkan semangat yang berlebihan, memberikan latihan secara terus menerus, dan mengharapkan anaknya dapat menjadi superior. Sikap orang tua semacam ini dapat mengakibatkan anak menjadi cemas berlebihan sehingga pada gilirannya menghambat pencapaian prestasi belajar yang optimal.
Orang tua yang bersikap menerima anak berkesulitan belajar apa adanya adalah yang paling positif, yang memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Sesungguhnya sulit untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan menerima anak apa adanya. Menurut Robinson seperti dikutip oleh Mercer (1979 : 99), yang dimaksud dengan menerima anak adalah menghargai apa yang dimiliki anak, menyadari kekurangannya, dan aktif menjalin hubungan yang menyenangkan dengan anak. Bertolak dari penghargaan atas apa yang dimiliki anak dan penerimaan atas apa yang tidak dimiliki anak, orang tua menjalin hubungan yang wajar dan berupaya mengembangkan potensi yang masih dimiliki oleh anak untuk mempersiapkan tugasnya di masa depan. Menurut Wortis seperti yang dikutip oleh Mercer (1979 : 99) ada dua indikator dari orang tua yang menerima anak apa adanya, yaitu :
a. Tetap melakukan aktivitas kehidupan yang normal
b. Berupaya mempertemukan anak dengan kebutuhannya
Menurut Mercer (1979 : 95), sikap menerima anak apa adanya adalah tahapan akhir dari penyesuaian orang tua dalam menghadapi anaknya yang berkesulitan belajar. Ada lima tahapan penyesuaian orang tua dalam menghadapi anaknya yang berkesulitan belajar, yaitu :
1. Menyadari adnya masalah
2. Mengenal masalah
3. Mencari penyebab
4. Mencari penyembuhan
5. Menerima anak apa adanya
Dalam menjalin hubungan dengan orang tua, sekolah perlu menyelenggarakan antara orang tua dan guru. Pertemuan orang tua – guru dapat menjadi suatu jembatan antara rumah dan sekolah. Baik orang tua maupun guru sering merasa khawatir saat hadir dalam pertemuan semacam itu. Para orang tua umumnya khawatir terhadap laporan guru tentang anak mereka sedangkan para guru umumnya khawatir terhadap reaksi negatif dari para orang tua. Pertemuan orang tua – guru hendaknya dipandang oleh kedua belah pihak sebagai wahana untuk membantu anak. Dengan melakukan koordinasi berbagai upaya, orang tua – guru dapat bekerja sama untuk membantu anak mencapai kemajuan.
Dalam menyelenggarakan suatu pertemuan, guru hendaknya berusaha meyakinkan orang tua bahwa mereka akan diajak berkomunikasi dalam hubungan antar manusia, bukan hubungan dengan sistem yang impersonal. Guru hendaknya memperlihatkan perhatian mereka terhadap anak dan penghargaan terhadap orang tua, dan bukan memperlihatkan kesombongan. Berbagai kesulitan hendaknya dibicarakan dalam suasana tenang dan menghindari istilah-istilah teknis. Para orang tua umumnya ingin memahami sifat masalah, dan karena itu data diagnostik dan pendekatan pembelajaran yang digunakan hendaknya dijelaskan kepada orang tua. Para orang tua hendaknya juga dibantu untuk menjadi peka terhadap berbagai kesulitan yang dihadapi oleh anak mereka di sekolah.
PERAN SERTA ORANG TUA
Peran orang tua peserta didik merupakan bagian keterampilan eksternal dari pihak sekolah. Tujuan hubungan sekolah dengan orang tua adalah saling membantu dan saling mengisi antara orang tua dan sekolah. Orang tua merupakan salah satu aspek yang penting dalam pelaksanaan MBS. Peran mereka tidak hanya berupa dana, tetapi juga dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah dapat disesuaikan dengan latar belakang sosial ekonomi dan kemampuan orang tua.
I. Peran Serta Orang tua dalam Pembelajaran
Sebagaimana dinyatakan Tim Penulis Paket Pelatihan Awal MBS untuk Sekolah dan Masyarakat (2003:2-7), para pakar sepakat bahwa ada tujuh jenis peran serta orang tua dalam pembelajaran.
1. Hanya sekedar pengguna jasa pelayanan pendidikan yang tersedia.
2. Memberikan kontribusi dana, bahan dan tenaga.
2. Memberikan kontribusi dana, bahan dan tenaga.
3. Menerima secara pasif apa pun yang diputuskan oleh pihak yang terkait dengan sekolah.
4. Menerima konsultasi mengenai hal – hal yang terkait dengan kepentingan sekolah.
4. Menerima konsultasi mengenai hal – hal yang terkait dengan kepentingan sekolah.
5. Memberikan pelayanan tertentu.
6. Melaksanakan kegiatan yang telah didelegasikan atau dilimpahkan sekolah.
7. Mengambil peran dalam pengambilan keputusan pada berbagai jenjang.
7. Mengambil peran dalam pengambilan keputusan pada berbagai jenjang.
Pada hakekatnya guru dan orang tua dalam pendidikan yang mempunyai tujuan yang sama, yakni mengasuh, mendidik, membimbing, membina serta memimpin anaknya menjadi orang dewasa dan dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya dalam arti yang seluas-luasnya. Hal ini sebagai penunjang pencapaian visi Bangsa Indonesia berdasarkan ketetapan MPR RI No. IV/2004 tentang GBHN (1996:66).
Kerjasama pengawasan antara guru dan orangtua murid tersebut dimaksudkan agar aktivitas keseharian setiap murid tidak larut dalam aktivitas yang dapat mengganggu aktivitas belajarnya. Melalui kerjasama tersebut orangtua akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang tingkat keberhasilan anaknya dalam mengikuti aktivitas disekolah. Disamping itu, orangtua juga akan mengetahui kesulita-kesulitan apa yang sering dihadapi anak-anaknya disekolah, juga dapat memperoleh informasi tentang kondisi anak-anaknya dalam menerima pelajaran, tingkat kerajinan, malas, bodoh, atau bagaimana etikanya dalam pergaulannya. Sebaliknya, guru dapat pula mendapatkan informasi tentang kondisi kejiwaan muridnya yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya, dan keadaan murid dalam kehidupannya ditengah-tengah masyarakat dan sebagainya.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah (guru), orangtua murid, masyarakat, dan pemerintah. Dengan demikian, semua pihak yang terkait harus senantiasa menjalani hubungan kerja sama dan interaksi dalam rangka menciptakan kondisi belajar yang sehat bagi para murid. Interaksi semua pihak yang terkait akan mendorong murid untuk senantiasa melaksanakan tugasnya sebagai pelajar, yakni belajar dengan tekun dan bersemangat.
Selain interaksi tersebut, ada juga interaksi yang mutlak harus dilaksanakan yang secara langsung dapat mewujudkan aktivitas belajar yang baik, yakni interaksi antara guru dan murid. Interaksi yang dimaksud mengindikasikan terpadunya dua jenis kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Aktivitas belajar yang dilakoni murid sebagai pelajar dan aktivitas mengajar yang dilakukan oleh guru sebagau tugas profesional guru dalam pandangan Sudjana (1994:31) bahwa:
Kegiatan yang diharapkan dapat mendorong murid untuk lebih aktif dan lebih bergairah dalam belajar karena kegiatan belajar dan mengajar yang berdaya guna dimaksudkan untuk mencapai tujuan pengajaran atau pembelajaran.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah (guru), orangtua murid, masyarakat, dan pemerintah. Dengan demikian, semua pihak yang terkait harus senantiasa menjalani hubungan kerja sama dan interaksi dalam rangka menciptakan kondisi belajar yang sehat bagi para murid. Interaksi semua pihak yang terkait akan mendorong murid untuk senantiasa melaksanakan tugasnya sebagai pelajar, yakni belajar dengan tekun dan bersemangat.
Selain interaksi tersebut, ada juga interaksi yang mutlak harus dilaksanakan yang secara langsung dapat mewujudkan aktivitas belajar yang baik, yakni interaksi antara guru dan murid. Interaksi yang dimaksud mengindikasikan terpadunya dua jenis kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Aktivitas belajar yang dilakoni murid sebagai pelajar dan aktivitas mengajar yang dilakukan oleh guru sebagau tugas profesional guru dalam pandangan Sudjana (1994:31) bahwa:
Kegiatan yang diharapkan dapat mendorong murid untuk lebih aktif dan lebih bergairah dalam belajar karena kegiatan belajar dan mengajar yang berdaya guna dimaksudkan untuk mencapai tujuan pengajaran atau pembelajaran.
Selanjutnya, hubungan timbal balik antara orangtua dan guru yang benilai informasi tentang situasi dan kondisi setiap murid akan melahirkan suatu bentuk kerja sama yang dapat meningkatkan aktivitas belajar murid baik di sekolah maupun di rumah. Hubungan kerja sama antara guru dan orangtua murid sangatlah penting. Hal ini tidak tercapai akan berimplikasi pada kemunduran kualitas proses belajar mengajar, dan akan menurunkan mutu pendidikan. Dengan demikian, maka diperlukan langkah-langkah yag dapat mendukung terlaksananya peningkatan aktivitas belajar dari murid yang dilakukan oleh orangtua, guru dan keduanya dalam hubungan kerja sama saling membantu dalam meningkatkan aktivitas belajar dari murid tersebut.
HUBUNGAN KERJASAMA ANTARA GURU DAN ORANGTUA DALAM MENNINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR MURID
1. Adanya Kunjungan kerumah anak didik Pelaksanaan kunjungan kerumah anak didik berdampak positif diantaranya :
a. Kunjungan melahirkan perasaan pada anak didik bahwa sekolahnya selalu memperhatikan dan mengawasinya
b. Kunjungan tersebut memberi kesempatan kepada guru melihat sendiri dan mengobservasi langsung cara anak didik belajar, latar belakng hidupnya, dan tentang masalah-masalah yang dihadapinya dalam keluarga.
c. Guru berkesempatan untuk memberikan penerangan kepada orangtua anak didik tentang pendidikan yang baik, cara-cara menghadapi masalah yang sedang dialami anaknya.
d. Hubungan antara orangtua dengan guru akan bertambah erat.
e. Kunjungan dapat memberikan motivasi kepada orangtua anak didik untuk lebih terbuka dan dapat bekerjasama dalam upaya memajukan pendidikan anaknya.
f. Guru mempunyai kesempatan untuk mengadakan interview mengenai berbagai macam keadaan atau kejadian tentang sesuatu yang ingin ia ketahui.
e. Kunjungan dapat memberikan motivasi kepada orangtua anak didik untuk lebih terbuka dan dapat bekerjasama dalam upaya memajukan pendidikan anaknya.
f. Guru mempunyai kesempatan untuk mengadakan interview mengenai berbagai macam keadaan atau kejadian tentang sesuatu yang ingin ia ketahui.
2. Diundangnya Orangtua Kesekolah Kalau ada berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah yang memungkinkan untuk dihadiri oleh orangtua maka akan positif sekali bila orangtua diundang untuk datang kesekolah.
3. Case Conference Case Conference merupakan rapat atau conference tentang kasus. Conference biasanya dipimpin oleh orang yang paling mengetahui persoalan bimbingan konseling khususnya tentang kasus yang dimaksud tujuannya agar mencari jalan yang paling tepat agar masalah anak didik dapat diatasi dengan baik.
4. Badan pembantu sekolah Badan pembantu sekolah adalah organisasi orangtua murid atau wali murid dan guru yang dimaksud kerjasama yang paling organisasi antara sekolah atau guru dengan orangtua murid.
5. Mengadakan Surat Menyurat Antara Sekolah Dan Keluarga Surat menyurat diperlukan terutama pada waktu-waktu yang sangat diperlukan pada perbaikan pendidikan anak didik, seperti surat peringatan dari guru kepada orangtua jika anaknya perlu lebih giat, sering membolos, sering berbuat keributan dan sebagainya.
6. Adanya Daftar Nilai Atau Raport Raport yang biasanya di berikan setiap catur wulan kepada para murid dapat dipakai sebagai penghubung antara sekolah dengan orangtua. Sekolah dapat memberi surat peringatan atau meminta bantuan orangtua bila hasil raport anaknya kurang baik atau sebaliknya jika anaknya mempunyai keistimewaan dalam suatu mata pelajaran, agar dapat lebih giat mengembangkan bakatnya atau minimal mampu mempertahankan apa yang sudah dapat diraihnya.
No comments:
Post a Comment
Ada Komentar?