Pendidikan adalah fondasi maju mundurnya sebuah bangsa. Pendidikan lah yang kemudian membuat citra diri sebuah bangsa layak untuk disebut sebagai sebuah peradaban. Pendidikan menjadi kunci penting kebangkitan. Keberhasilan sebuah bangsa di bidang pendidikan pasti akan bersinergi dengan keberhasilan bangsa tersebut mengurus rumah tangga peradabannya. Sesunguhnya pendidikan jualah yang memuliakan manusia dari yang tidak tahu menjadi paham. Karena, sejatinya hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Begitulah yang kita pahami akan hakikat dan urgensi pendidikan dalam sebuah bangsa. Wajar jika kemudian ada sebuah prediksi bagi sebuah bangsa yang tidak menyandarkan pendidikan sebagai sebuah tiang peradabannya, ditunggu kehancurannya.
Begitu pentingnya sebuah pendidikan bahkan membuat para elit politik Jepang heran saat itu. Sang Pemimpin justru menyuruh mengumpulkan para guru yang tersisa untuk mendidik anak – anak mereka. Padahal disekitar mereka masih banyak permasalahan dan kegetiran yang disisakan pasca perang yang mematikan itu. Meski harus pahit, Nagasaki yang hancur, Hiroshima yang luluh lantak, harga diri yang tercabik – cabik, bahkan trendsetter Asia itu pun harus mengangkat bendera putih tanda kekalahan, namun satu hal yang patut menjadi pujian, sebuah optimisme kebangkitan. Dunia pun terheran – heran. Tak berapa lama, negeri itu pun bangkit kembali dengan segala cerita kemajuannya. Inilah keberhasilan di balik cerita kesigapan para pemimpinnya yang mengutamakan pendidikan.
Hal itu pula lah yang mungkin membuat Rasulullah saw. menyepakati pendapat Abu Bakar Shiddiq untuk kemudian menahan para tahanan perang badar untuk kemudian mengajari anak – anak mereka membaca dan berhitung. Demikian juga kita tidak akan terheran – heran akan sikap Rasulullah pasca perang uhud yang mengumpulkan para pengahapal Al Qur’an yang tersisa untuk kemudian mendidik generasi selanjutnya. Karena kita paham, bahkan turunnya risalah yang mulia ini dengan sebuah perintah eseensial untuk pendidikan. Iqra!!! Bacalah!!!
Namun, apa yang kita lihat dari Indonesia, dan polemik pendidikannya. Di tahun 70an konon kabarnya negeri jiran Malaysia mengimpor tenaga pengajar dari Indonesia untuk mengajari anak – anak mereka. Namun di penghujung 2000an justru Indonesia kemudian terpuruk dalam dialektika wacana krisis multidimensi yang artinya juga krisis kualitas pendidikan.
No comments:
Post a Comment
Ada Komentar?