KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Sunday, 3 July 2011

MEMBISU DI STASIUN


Oleh    : Kahitna Yusuf (Nama lain sang penulis)

Kau penebar janji ulung. Entah kau tepati, entah tidak. Yang penting kau lontarkan janji. Tak ubahnya seperti seorang bupati ataupun legislatif yang sedang kampanye.
Membekas jelas di memory ini tentang sebuah janji. Bak misteri yang terus dinanti. Mengharap jawaban pasti. Kau memeberi gambaran akan sebuah penantian diri. Kau memang penjanji sejati.
Di stasiun, tepatnya stasiun kertapati. Meski tempat itu membisu, tetapi dia saksi kunci. Walaupun disekeliling kita banyak orang berlalu lalang, tetapi mereka tak tahu apa yang terjadi. Ya, hanya Ilahi, kita berdua dan stasiun ini yang menjadi saksi.
***
Aku pernah bertanya, ingatkah kau waktu itu. Waktu kita terperangkap disebuah obrolan kecil disudut perpustakaan. Meski semua tanpa senyuman, tapi kita tetap bertahan. Menceritakan topik-topik tak bermakna. Ya itu semua karena kita sama-sama gengsi untuk memulai.
Tetapi aku memberani diri. Aku bertanya tentang kegelisahan, sebuah rasa yang terus menggerogoti hari-hari ku. Rasa yang aneh dan unik. Rasa yang mendatangiku sejak perkenalan di kampus asing tahun lalu. Aku sedikit memaksa mu untuk memberi kepastian. Tetapi kau tunda, tanpa sebuah alasan pasti. Kau benar-benar tega. Kau membuat rasa kegelisahan itu kian kronis.
Aku terlalu egois. Aku terus mengarahkan percakapan kecil itu kearah titik permasalahan ku. Tetapi kau menghanyutkan cerita dengan sebuah canda. Lagi-lagi kau benar-benar tega. Kau menambah beban kegelisahan ku dengan sebuah kekesalan. Apa kau benar-benar tak mengerti, atau sengaja untuk membuatku kian penasaran.
Mata mu sayu, aku melihat sinar kecil yang menggulung saat kita bertatapan. Aku langsung menyimpulkan sebuah hipotesa  mini. Perasaan mu sama dengan diri ku, sebuah kesimpulan nekad yang penuh kegeer-an. Tapi aku benar-benar yakin, apalagi setelah kau terus menunduk dengan rudal-rudal pertanyaanku.
Tetapi kau tetap juga egois. Kau tetap menahan jawaban-jawaban itu. Mungkin kau simpan rapi untuk melayangkan nya pada saat tepat. Seperti kata teman sekampus mu, Nurjanah. Ada hari-hari baik untuk berbuat, berucap dan beraktivitas. Sungguh kalian sejoli.
Aku benar-benar mati kutu dengan semua itu. Aku tak tahu cara tepat untuk merenggut jawaban mu. Kau begitu utuh untuk perasaan ku. Kau bentengi semua dengan senyuman penuh tanda tanya untuk ku. Kau benar-benar tega menyiksa kepenasaran ku.
Kita diakhiri waktu, karena kita harus metu. Perpus tak bisa lagi untuk kita membentuk diskusi mini yang tak berarti. Tetapi aku tetap memaksakan diri, mengajak mu untuk mencari solusi. Lagi-lagi tentang kegelisahan ku.
Kau bisa mengerti, tetapi tetap saja kau keras hati. Kau tetap menjawab semuanya dengan sunyi. Meski berjalan sepanjang kampus-timbangan. Benar-benar menyiksaku.
Huh... Diri ini semakin terperangkap dengan kegelisahan. Perangkap yang terus diteror kepenasaranan.
***
Lupakan hari itu. Karena kau penjahat sejati yang tak bisa dihenti. Kau mencuri diri ku dengan kekaguman. Sungguh sulit dilakukan untuk kriminal ulungan yang biasa mangkal diperempatan.
Kita kembali memulai cerita, lagi-lagi tentang sebuah kegelisahan. Kau masih menyebalkan. Tetapi kau mengirim sebuah pesan. Tentang sebuah jawaban. Oh... sungguh mengesankan, meskipun tanpa jawaban.
Besok aku mau kestasiun dan menemui mu. Akan aku beri jawaban tentang kegelisahan mu”.
Sebuah pesan pendek yang membunuh kesunyian. Riak-riak sorai hati yang memecahkan kristal kegelisahan. Bukan tentang sebuah penerimaan. Tetapi tentang kepastian. Yang menghentikan sebuah pengharapan, akan sebuah kebersamaan.
***
Pagi yang dinantikan. Diiringi puing-puing kegelisahan yang terpecahkan.
Kau dimana, cepat datang. Apakah kau mengingkari janji mu. Apakah kau tak tahu kereta kelampung telah melaju. Kini giliran kereta tumpangan ku. Ah... kau selalu menyebalkan.
Itu suasana hatiku yang terus nyenyes dengan tingkah mu.
Kau datang juga. Aku tidak tegang. Karena aku sudah membuat pagar. Yang bisa menjaga pekarangan hati tentang sebuah jawaban.
Kau menjawab dengan pelan. Kau menjawab dengan penuh kehati-hatian. Seperti aliran sungai yang memercikan sebuah kesan.
Ya, sudah ku duga sebelumnya. Jawaban mu pasti sama dengan hipotesa mini ku. Aku benar-benar tanpa arah. Dan membuat semuanya terbalik. Aku menjadi bisu dadakan. Meski jawaban itu adalah yang diharapkan.

No comments:

Post a Comment

Ada Komentar?