KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Thursday, 7 July 2011

Eksistensi Atau Solusi

Suatu waktu, ada kejadian yang sedikit memberikan gesekan emosional bahkan telah menjuruskan kegesekan fisik. Ini mengenai sebuah harga diri ataupun keeksitensian. Ya, tentang perbedaan pendapat dengan kawan-kawan disuatu perkumpulan. Cukup mengharukan, karena ada pelajaran penting dan berharga yang bisa diambil. Memberikan penuntunan untuk berintropeksi diri dari rasa salah, keakuan dan keegoan.
Tak bisa disangkal, sebagian orang terkadang merasa dirinya tak pernah salah. Dialah yang paling benar. Sering merendahkan pendapat orang lain, saran-saran dari orang lain. Terlebih orang yang dianggap status sosial, ekonomi atau keadaan lainnya yang lebih rendah.
Terlebih ketika menjadi seorang pemimpin ataupun penguasa. Kadang sangat  sulit untuk membuka mata dan telinga. Memeberi jalan untuk para anggota-anggota/ teman memberikan masukan(saran), kritikan ataupun pendapat. Bahkan mungkin meremehkan anggota-anggota atau teman-temannya. Menganggap diri adalah seorang pemimpin yang lebih mengerti dari anggota-anggotanya. Tanpa diasadari, menjadinya kita sebagai seorang pemimpin karena ada para anggota-anggota yang mungkin memepercayainya. Anggota yang menjadi teman setia dalam menjalankan suatu misi. Tetapi hanya dijadikan bahan pelengkap barisan.
Pendapat adalah sebuah persepsi. Banyak sudut yang bisa di telaah dalam membuat suatu pendapat. Sedangkan perbedaan pendapat adalah suatu penguat kita dalam membuat suatu keputusan. Karena dengan adanya perbedaan itu, kita lebih banyak mempunyai alternatif yang bisa dipertimbangkan, yang mana lebih efektif dan pas untuk keputusan itu sendiri.
Sering kita iri ataupun dendam terhadap seseorang dalam suatu lingkup karena ide/ pendapat kita tidak diterima. Kita langsung mengambil keputusan bahwa kita tidak dihargai atau direndahkan. Coba kalau kita hilangkan semua pikiran-pikiran negatif itu. Ketika ide/pendapat kita belum diterima, mungkin ada pendapat orang lain yang lebih tepat lagi untuk digunakan.
Biasanya, pribadi yang belum matang (belum dewasa), sangat angkuh dan bersikeras terhadap kehendak sendiri. Tak mau menerima pendapat/ masukan orang lain. Mereka memandang kehebatan diukur dari diakuinya dirinya, tanpa memikirkan suatu penyelesaian yang baik.
Seperti sering ditemui di beberapa perkumpulan/organisasi yang pada hakikatnya sebagai wadah kebersaman, tetapi justru memecahkan dan menimbulkan permusuhan. Mungkin karena tuntutan eksistensi, ataupun suatu kepentingan lain diluar dari kepentingan perkumpulan itu sendiri. Dengan itu, kadang seseorang sering membetengi diri dengan keangkuhan, tidak mau mengalah dan menerima pendapat orang lain, idenya selalu mau diakui. Musyawarah dan mufakatpun diabaikan. Juga sering karena perbedaan pendapat, orang berniat untuk saling menjatuhkan, menaruh iri dan dendam, bahkan siap untuk beradu fisik.
Seperti ditekankan diatas. Bukankah lebih baik jika timbul banyak ide/ pendapat. Karena itu menandakan kita semua peduli, ingin ikut andil. Kalau demikian, kenapa kita tidak bergandengan saja. Menjadikan lumbung ide dan menyaringnya untuk mencari suatu keputusan yang benar-benar tepat dan kepentingan bersama, tanpa ada yang merasa dizalimi. Bukankah kita diciptakan sangatlah beragam, termasuk pemikiran. Dengan keberagaman ini mari kta buat seagai penyatu.


“KEBIJAKAN  KITA DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN BUKAN DIUKUR DARI DITERIMANYA IDE KITA ATAU TIDAK, MELAINKAN BISA ATAU TIDAKNYA KITA MENERIMA IDE ORANG LAIN UNTUK MENYELESAIKANNYA”

No comments:

Post a Comment

Ada Komentar?