KAHITNA YUSUF

KAHITNA YUSUF

Saturday, 16 July 2011

Muratara, Impian dan Untuk Siapa?


Muratara! Itu lah topik pembahasan terhangat kalangan elite didaerah ku. Mengalahkan berita-berita kriminalitas atau pun gosip-gosip para selebritis yang sama marak, bahkan lebih marak daripadanya.
Dulu, beberapa tahun yang lalu (tepatnya masih SMP), sama seperti kebanyakan masyarakat lainnya, aku tak pernah tahu tentang Muratara. Terlintas dalam ingatanku, hanya beberapa hari kata-kata Muratara mengguncang desaku. Masyarakat kami disibukkan tentang pemekaran wilayah, tepatnya pembentukan Kabupaten baru. Itu pun mereka (lupa siapa, yang jelas ada seseorang dan  kelompoknya) hanya memeberi buku yang tak ubahnya seperti lembaran persetujuan bahwa   masyarakat desaku ikut mendukung pembentukan Kabupaten baru itu. Tanpa ada pemahaman berarti tentang maksud semua itu. Meski demikian, mereka tak terlalu mempermasalahkan itu. Masyarakat desaku larut dengan semangat kebersamaan (ikut-ikutan) dan juga sebagian kecil, yang sangat kecil adalah kepentingan lain dari tujuan yang sesungguhnya.
Masyarakat ku dengan semangatnya meneteskan tinta pena untuk menandatangani lembaran itu. Penuh sudah lembaran itu dengan rangkaian tanda tangan. Bisa disimpulkan, masyarakat kami setuju semua dengan pemisahan wilayah dari Musi Rawas. Meski demikian, mereka tidak mengerti dengan semua itu. Ya, karena tadi, hanya ikut-ikutan.
Tapi,  beda hal nya dengan sekarang. Sedikit demi sedikit, aku tahu tentang Muratara. Setidaknya kepanjangan dari itu, atau juga yang lainnya adalah kecamatan-kecamatan yang termasuk didalamnya.
***
“ Muratara impian 200 ribuan masayarakat tujuh Kecamatan ”
“ Muratara punya SDA yang berlimpah ”
Itu kurang lebih tulisan-tulisan yang sering diutarakan di situs jejaring sosial facebook tentang Muratara. Bahkan lebih dari hitungan jari sebelah tangan, grup-grup di facebook yang mengatasnamankan pergerakan Muratara atau tentang Muratara lainnya. Ini semua saking semangatnya.
Sedikit uraian tentang pernyataan yang sering muncul itu. Mungkin lebih tepatnya pertanyaan-pertanyaan.
Jika Muratara impian 200 ribuan masyarakat di tujuh Kecamatan, lantas masyarakat yang mana?
Sekedar informasi dan contoh ketidaksinkronnya pernyataan tersebut. Adalah pengalaman pribadi bersama rekan-rekan Mahasiswa di tujuh Kecamatan itu. Awal Februari lalu kami mengadakan kegiatan penggalangan dana untuk korban bencana di Indonesia “Dari kita untuk bangsa, Muratara peduli sesama”. Pada setiap tempat yang kami datangi (rumah, toko dan gardu-gardu) di beberapa desa di lima Kecamatan (Rupit, Rawas Ulu, Karang Jaya, Karang Dapo, dan Rawas Ilir), timbul kepenasaranan warga tentang warna-warni almamater kami dan maksud tujuan kami. Sebagian kecil warga menyangka kami kampanye partai politik/ calon bupati atau apalah yang bisa dikampanyekan. Tetapi kebanyakan mereka sudah mengetahui kami adalah seorang Mahasiswa sedang mengadakan kegiatan, yang disangkanya KKN atau praktik lapangan dari kampus.
Ketika kami membuka ramah-tamah untuk mengajak berpartisipasi (ikut menyumbang), mereka juga penasaran lagi. Ya, tentang rombongan kami. Tetapi dengan lantang kami menjelaskan bahwa kami adalah mahasiswa Muratara. Tetapi penjelasan kami justru lebih membuat penasaran yang teramat dari sebelumnya.
“ Mahasiswa muratara. Mahasiswa dari mano tu? Dari Jakarta apo dari Linggau siko lah? ”. Kata-kata ini sangat sering mengiang ditelinga kami. Hanya bisa tersenyum!
Melihat pemandangan ini. Bisa disimpulkan bukan, tentang pengetahuan masyarakat mengenai Muratara. Sekedar kata-kata Muratara saja tidak tahu, bagaimana mereka mau paham. Jika dipresentasekan, sekitar 80 persen warga yang kami datangi untuk meminta bantuan (berpartisipasi dalam ikut menyumbang) menanyakan kata-kata itu. Muratara! Jika kami masuk kedaerah yang lebih dalam lagi jangkauannya, mungkin waktu kegiatan kami hanya dihabiskan untuk menjelaskan identitas kemahasiswaan daerah kami. Untung nya kami hanya menjelajahi daerah dan tempat yang tidak seperti itu.
Semua orang pasti tahu, untuk menggapai suatu impian harus tahu cara untuk meraihnya. Sedangkan disini bisa dilihat bahwa masyarakat yang dikatakan mengimpikan Muratara, tak pernah tahu tentang impiannya sendiri, apalagi mau mengetahui cara meraihnya. Aneh nya, yang dikatakan impian mereka secara ghaib timbul dipermukaan umum, dan menjadi senjata untuk meyakinkan pihak-pihak lain.
***

“ Dari 205 wilayah yang dimekarkan, 80 persen diantaranya dinilai telah gagal. Banyak wilayah yang ingin melakukan desentralisasi namun tidak melihat aspek kemampuan yang dimiliki. Bahkan pemekaran wilayah ditengarai menumbuhkan kantong-kantong korupsi didaerah itu dan lebih mengedepankan semangat kedaerahan yang berlebihan ” (sumber: majalah parlementaria. Edisi 78 th.xli, 2010)
Kutipan diatas adalah sebuah pelajaran yang sangat harus diperhatikan dan diteladani. Bukan sebuah intimidasi, tetapi sebagai antisipasi.
“ Muratara punya SDA yang berlimpah ”. Daerah Muratara harus menjadi wilayah definitip, agar aset penyumbang anggaran terbesar di Kabupaten Musi Rawas ini dapat diolah dan digunakan untuk pembangunan secara maksimal di tujuh Kecamatan ini. Sehingga cita-cita  untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pembangunan yang merata, mengurangi pengangguran dan bahkan meminimalisirkan aktivitas-aktivitas kriminal dijalanan daerah Muratara (mungkin) dapat terwujud.
Sebuah ide dan perencanaan bagus tanpa solusi dan antisipasi. Bukan mengecilkan tentang arti sebuah SDM dimasyarakat kita. Tapi pada kenyataan sudah tampak jelas dalam penglihatan kita. Mungkin sekarang ada dan banyak SDM itu. Tetapi untuk periode kedepannya, akankah ambur adul dan terjajah oleh orang asing? Sedangkan regenerasi yang diharapkan menjadi iron stock, kian buram, karena kelengahan dari perhatian dari kaum-kaum elite diwilayah ini.
Yang terhenti pendidikan pada SMA sederajat dan kebawahnya, dibiarkan untuk mandiri, yang pada ending nya menjadi “over mandiri”. Sedangkan yang lagi berakademisi dan giat menekuni disiplin ilmunya, tak pernah dirangkul. Selesai study, mereka dibiarkan merantau dari wilayah sendiri.
Jika Muratara menjadi definitip, siapa yang mengolah SDA itu? Apakah kita harus tetap teguh dengan asas kekeluargaan atau kebersamaan (ikut-ikutan) yang tak memandang tujuan? Apakah kita membiarkan semua aset-aset itu diolah oleh orang-orang yang tidak mempunyai SDM yang mumpuni, dan pada akhirnya membuka kesempatan-kesempatan untuk mempraktekkan KKN?
Jika ujung-ujungnya seperti ini, tercapai tidak cita-cita itu? Tidak kan!

***
Kami sangat mengharapkan sekali terbentuknya Muratara. Tetapi tolong kami dilibatkan, Kami tidak terlalu berharap pada tempat-tempat/ posisi yang tinggi di daerah ini. Cukup kami menjadi bagian terpenting dan berarti (bermanfaat dan nyaman) untuk masyarakat kita tercinta ini.

2 comments:

  1. Untuk Langkah Awal kita lihat dulu SDM yang ada di daerah kita,,, jangan sampai kelak jika Muratara terbentuk, hanya orang2 yang mempunyai kepentingan kekuasaan yang menguasainya....
    SDM merupakan aset penting selain SDA. Jika SDA banyak tetapi SDM tidak ada sama aja seperti sekarang keaadaannya...
    Oleh karena itu bangun dulu SDM kita,,,

    ReplyDelete

Ada Komentar?